Three Stupid Words : Chapter 6

“So what the hell are you doing here ?” kataku dengan perut sakit karena on period sementara Tiffany terus memegang pipinya yang bengkak pasca operasi gigi bungsunya

Kami tidak melakukan hal ‘itu’ justru kami duduk berdua di ranjang nonton netflix mengenakan piyama. Dibandingkan sexy couple, kami justru seperti pasangan yang sudah lama menikah dan kehilangan hasrat di diri mereka. Yah, atau mungkin kami seperti wanita yang mengadakan pajama party

“Kamu tahu kan kita tidak bisa melakukannya sekarang. There is a crime scene in my pants. Beside, rahangmu bengkak dan daritadi kamu mengeluh kesakitan”

“Hmmm..”

“Dan mungkin ini pertama kalinya kamu menginap tanpa meraba-raba badanku”

“hmmmm”

“Jadi kamu hanya mau ditemani malam ini ?”

“hmmm” dia mengangguk sambil tersenyum

“Ah aku lupa bilang, tanggal 23-25 Desember aku ke  Berlin. Iya yang di Jerman. In case kamu terlalu bodoh”

“Hm ?”

“Ada pemotretanjadi aku akan menghabiskan Natal di sana… Sendiri.. Krsystal ke LA dan kamu di sini dan aku sendiri di Berlin…”

“Hmmmmm”

***

23 Desember

“Perfect, thank you so much” kataku setelah memberikan tip kepada bell boy. Perjalanan sangat sempurna dengan pesawat first class dan sampai hotel Hyatt mewah dengan Suite Room

Ting tong

Ah itu pasti room service untuk welcome drink

“yes ?”

“Hai beautiful” kata seorang wanita dengan eye-smile lebar, tangannya memegang buket bunga. Tanganku otomatis menutup pintu kamar

Damn it Tiffany ! Apa ini mimpi ? Kenapa dia di sini ? Aku kembali membuat pintu hotel dan dia tetap di sana dengan senyum lebarnya

“Hai Jes—“ aku kembali menutup pintunya dan merenung sebentar untuk memastikan kalau ini bukan mimpi. Kenapa wanita gila itu menyusulku sampai ke Berlin. Aku kembali membuka pintu dan dia masih tersenyum

“Sudah donk, jangan buka tutup pintu” dia langsung masuk tanpa kuundang

“Ke… kenapa kamu ada di sini ? Aku bahkan sudah bilang ke resepsionis kalau aku mau privasi lebih. Oh God kamu bisa naik ke sini”

“Tidak usah berlebihan. Aku Tiffany Hwang DUH ! Tentu saja aku bisa masuk ke sini. Ini untukmu tadi aku beli tadi” aku menepis bunganya  “Awww come on Jessie. Don’t you miss me ?” dia menarik bahuku dan mencoba menciumku tapi aku berhasil lepas dengan mendorongnya

“Nope, aku tidak mengerti apa yang kamu lakukan di sini”

“Aku tidak tahan—“

“Aku selain photoshoot, di sini aku juga ingin menjauhkan diriku dari .. darimu”

“Kenapa ? Bukannya kamu—“

“Diam dulu. Aku perlu waktu sendiri dan break darimu Tiff, kita terlalu sering bersama”

“Tapi—“

“Kamu selalu mengikutiku kemanapun. Gosh Tiff, don’t you have another .. I don’t know, things to do ?”

“But Jessie, I can’t stand the idea of not meeting you”

“What ?”

“I can’t stand the idea of not meeting you. Aku ingin terus bersamamu. Aku tidak tahan kalau berpisah darimu”

Kami terdiam. Aku bengong dengan perkataan Tiffany. Itu adalah kalimat paling manis dan paling aku ingin dengar darinya. Tentu saja selain I love you

“Tapi.. kalau kamu tidak mau aku di sini, well, I’ll go and book a flight to Seoul”

“No, stay. You can stay” tanganku menarik coat hitamnya. Aku bisa merasakan pipiku memanas. Tiffany mengeluarkan smirk andalannya

“Hahaha aku tahu kamu akan menuruhku untuk tinggal, makanya aku membawa koperku” dia membuka pintu dan menarik kopernya masuk sambil tertawa penuh kemenangan

“Damn you, psycho !”

Dia melepaskan coatnya dan berjalan ke sekitar kamar

“Whoaaa what a view ! Malam Matal di sini pasti bagus banget” katanya sambil melihat ke jendela

“Tentu saja ! Ah, kenapa aku harus menghabiskan malam Natal denganmu”

“Nah, itu alasanku ke sini. Aku tidak akan membiarkanmu menghabiskan Natal sendiri” tangannya mengelus kepalaku dengan lembut

Ting Tong

“Wow room service” dia berlari seperti anak kecil ke pintu dan mengambil buket champagne di dalam Ice bucket dan 2 gelas “Ayo kita rayakan”

***

Aku merebahkan kepalaku di pangkuannya sambil menonton TV

“Bagaimana kamu bisa tahu aku di Hyatt ?”

“Aku melihat emailmu. Lalu kulihat email dari Hyatt tentang booking kamar dan aku juga tahu penerbanganmu” katanya dengan santai sambil menikmati minumannya

“WHAT ?” aku segera bangun dari pangkuannya

“What ? Apanya ? Kenapa?”

“KAMU MASIH TANYA KENAPA ? YOU’RE A CREEPY WOMAN ! GOD ! YOU’RE CRAZY. BAGAIMANA KAMU BISA TAHU EMAILKU”

“Please Jessie, tenang dulu kamu berlebihan. Aku membongkar komputermu dan mencari passwordmu. Aku beritahu, ya Jessie080489 itu terlalu umum. ”

“BERLEBIHAN APANYA ! STLAKER ! KAU MENJIJIKAN !”

“Stalker ? Hmm iya juga sih. Lalu aku book flight yang sama, tapi di business class. Kamu kan di first class jadi kita tidak bertemu. Tapi aku bingung juga kamu ga sadar. Penyamaranku berhasil”

Aku masih bengong dengan semua penjelasannya. Astaga aku berurusan dengan wanita berbahaya. Bukannya mendapat privasi lebih di sini, semua privasiku terengut oleh orang ini yang sialnya sangat aku cintai

“Se… selain password emailku, apalagi password yang kamu tahu”

“Gampang saja, handphonemu, netflix, HBO Go!, Spotify, laptopmu, hmm iTunes, iCloud, yah itu sama dengan password email sih. Lalu …”

“La… lalu ?”

“Oh Pin ATM mu, semua pin kartu kreditmu.. sepertinya sudah deh”

Aku melihatnya dengan tatapan horror, aku segera berjalan ke kamar dan merebahkan diri ke ranjang

“Ooh Jessie, are you mad ?”

“Shut up. I need a space from you, psycho”

“Jessie, artinya aku peduli padamu” dia memelukku dari belakang

“I need to go. I have a schedule” aku bangkit dan melepas pelukannya

“Hoo okay. Have fun !”

Sebelum aku melangkah keluar kamar, aku memelototinya.

“Sit !” kataku sambil menunjuk sofa. Dia seperti puppy langsung menurutiku “jangan lakukan apa pun apalagi membongkar barangku sampai aku kembali, mengerti ?”

Dia mengangguk dengan senyum menyebalkannya “Yes, madam”

***

Photoshoot berjalan lancar walaupun tadi sedikit berangin di sini. Melihat kota ini, aku jadi tidak sabar menikmatinya dengan Tiffany. Oh iya, orang itu sedang apa ya ? Pasti dia mengacak-acak koperku

“Nice ! It’s a wrap !”

Akhirnya selesai dan para staff membereskan barangnya. Aku segera mengganti bajuku bersiap untuk kembali ke hotel

“So Jessie, we have a Christmas dinner after this. Would you join, us ?”

“Hmmmm” makan malam dengan fotografer profesional, stylist keren, dan designer Vogue… tapi Tiff

“I.. would like to but I’m so tired. Maybe I’ll have dinner at the Hotel”

“Really ? Come on ! You’re already in Berlin. At least have enjoy the city with us “

“Mmm no.. I.. I really tired” aku berpura-pura lemas

***

Aku membuka kamar hotelku dengan terburu-buru. Kulihat Tiffany sedang minum entah susu atau kopi sambil menonton HBO

“Oh hai Princess. You look beautiful”

“Kamu masih di sini”

“Ha ? tentu saja. Kan aku menginap di sini”

Dengan nafas terengah-engah, aku melompat ke sofa dan menciumnya dengan liar

“Mmmhhh someone is eager”

“Shut up !” aku mendorongnya dan duduk di atas pahanya. Dia membantuku memelepas mantelku dan menurunkan ristleting dressku di belakang

“You’re beautiful” dia mengangkat dressku hingga menyisakan underwearku. Aku kembali menciumnya “mmm also You’re very sexy. I’ll take that sexy thing off later”

“Oh my God ! Please stop talking, won’t you ?”

“So.. sorry mmhh” she flipped me and now she’s on top of my body. She whispered “I’ll make you feel good. You’ll scream my name”

“Please stop talking and do whatever you want. You drive me crazy” I pull her into a kiss

***

We both naked and I’m lying on top of her in couch. I try to calm myself and catch my breath

“So… round 2 ?”

“What ? Are you kidding ?”

“Errr no, I’m thinking in kitchen. In counter”

“……..”

 ***

She rubbed my butt and also do me from behind. She slapped my butt really hard several times. Now I feel my butt is very hot

“Ah ah Tiff… Oh God”

“Yes… like it ?”

“LOVE IT !”

After finished, she wishpered sexily with her husky voice “I’m thinking maybe we can do third round in the floor”

“Hmm I don’t know”

***

“Oh crap ! It’s cold !” I hugged her and try to avoid the coldness of the floor

“But you love it, don’t you ? You screamed yes several times earlier and I thought you love to do it on the floor” she kissed my neck and shoulder

“I… I just realized that the floor is so cold. Can we..”

“Okay, move to the bed !”

***

“Aku mandi dulu”

“Ha ? Tidak mau lanjut di ranjang?” dia berbaring dengan sexy untuk menggodaku

“Aku kotor sekali Tiff. Terakhir kali aku mandi tadi sebelum pergi dan daritadi photoshoot dilakukan di outdoor. So yeah..” aku melangkah ke kamar mandi dan sengaja tidak menutup pintunya  
Sambil menyalakan shower, aku melihat matanya di kaca. Matanya juga menatap kaca di depannya yang menghadap ke kamar mandi. Tatapan itu seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Sesuai prediksiku, dia masuk ke kamar mandi dan bergabung denganku

***

Dia menciumku tanpa henti di ranjang seolah tidak ada hari esok. Sesekali dia mengigit bibirku atau menyerang leherku. Aku sudah memperingatkannya no hickey karena besok aku masih ada photoshoot

“Mmhh Tiff stop it”

“Why ? You love it”

“Sebentaaarr biarkan aku bernafas” aku mendorongnya dan dia tertawa “Wow that was..”

“fantastic ? I know”

Kami terdiam sebentar dan menatap langit-langit. Nafas kami masih belum teratur, hari ini kami intens sekali

‘Jadi Tiff.. kenapa kamu menyusulku ke sini ?” aku membalik badanku untuk melihat wajahnya

“Aku sudah bilang kan. Aku tidak tahan tidak bertemu denganmu. Aku juga tidak tega kamu menghabiskan Christmas sendirian”

“Sungguh ?”

“Yep. Makanya aku menyusulmu hingga ke sini”

“Wow, itu berarti kamu peduli denganku?”

“A lot. I really care about you a lot”

“So…”

“So ?”

“Do you love me ?”

“What ?”

“Kamu mencintaiku ?”

“Jessie.. I’m tired. Let’s not discuss about it, shall we ?” dia mematikan lampu

“NO ! Let’s discuss it!” aku bangun dan duduk di ranjang

“Tidak Jessie, aku lelah, tadi perjalanan yang melelahkan” dia kembali mematikan lampu tapi aku kembali menyalakannya

“Tidak ! Kamu melakukan perjalanan jauh dan bahkan membuntutiku dan membongkar semua passwordku. Bukankah itu tindakan lebih dari teman ? Kamu juga bilang peduli padaku. Kamu yakin tidak memiliki perasaan cinta ?”

“Jess..”

“Jawab Tiff”

“Aku mau tiduuurr”

“Tidak ! Kamu selalu melakukannya. Menghindar dari pembicaraan ini. Ini pembicaraan serius Tiff. Kita bukan anak kecil lagi”

“Oh my God. Apa yang kamu inginkan” dia menutup wajahnya dengan bantal

“Jawab aku dulu Tiff. Do you love me or not”

“Aku sudah menjawabnya ! I care about you ! Aku ingin bersamamu, lalu bangun dan tidur di sampingmu. God Jessie! Kenapa  kamu membuat ini terasa sulit ? Aku sudah datang sejauh ini, tidak bisakah kamu senang sedikit ?”

“Tentu saja aku senang ! Aku ingin memastikan perasaanmu. Kau datang jauh-jauh demiku, aku tidak percaya jika kamu tidak memiliki perasaan denganku”

“Jessie, tolonglah ini bukan waktu yang tepat. Aku lelah”

“Tiff aku tidak suka dengan kebiasaanmu yang selalu menghindari masalah”

“Aku tidak menghindar… aku hanya lelah”

Kami kembali terdiam “Okay, You’re right. Let’s not talk about it” akhirnya aku mengalah. Aku mematikan lampu dan tidur membelakangi dirinya, begitu juga dengannya. Tidak ada goodnight kiss atau sekedar ucapan selamat malam. Kita yang tadi bercinta dengan panas dalam sekejap saling bersikap dingin

___________________________________________

Maafkan diriku ! Minggu lalu aku lupa upload chapter ini. Terlalu halu minggu lalu nonton Beauty and The Beast sih. Kalian dah nonton ? Bagus banget ya. Apalagi pas adegan dansa. Emma Thompson jadi Mrs.Potts bikin terharu deh. Emma Watson cocok bener deh jadi Belle. Biarpun masih ada image Hermione tapi aku padamu deh !

Minggu ini ada Power Rangers juga. YEAH ! Btw aku ga nonton Kong. Kaya makin ga masuk akal. Itu King Kong gede bueneerr

Soal FF, menurut kalian, yang nyebelin di chapter ini Tiff apa Jess ? Ga enak bener ya udah capek, abis begituan eh malah berantem. Jadi, pilih

a. Tiff yang nyebelin suka menghindar

b. Jess nyebelin suka maksa-maksa padahal situasi tidak mendukung

Eh lupa, chapter ini banyak NC nya. Awas aja anak dibawah umur baca yang disensor yah. Nanti digrepe Tiff lho malam-malam.

Byeeee

Three Stupid Words : Chapter 5

“Jadi… haah kau tau darimana teknik seperti tadi ?” aku masih terengah-engah setelah apa yang Tiffany lakukan dengan tubuhku

“Well, aku mencarinya di google” katanya dengan bangga “nah aku pergi dulu ya. Malam ini aku tidak bisa menginap”

Aku mengembungkan pipiku. Kalau dipikir-pikir dia akhirnya menjadi sering menginap dan bahkan kadang meminjam bajuku, sabunku, shampooku dan bahkan ada sikat gigi miliknya di kamar mandiku

“bye princess” dia menciumku

“Bye”

Setelah dia keluar, aku baru sadar syal dan coatnya tertingaal. Aneh sekali. Pertama ini musim dingin dan dia bisa kedinginan di luar. Kedua, Tiffany bukan tipe pelupa. Atau dia sedang banyak pikiran ya ?

***

Esok paginya aku menjemputnya di lobi apartemennya. Kami janjian dengan Sooyoung makan siang bareng

“Heiiii” sapanya dengan senyuman hangat saat memasuki mobilku

“Haiii. Lama menunggu ?”

“Tidak. Sama sekali tidak” dia memandangiku sebentar “kamu terlihat cantik hari ini”

“Pfft gombal. Ngomong-ngomong itu di belakang aku bawakan coat dan syall punyamu yang tertinggal”

“Untuk apa ?”

“Iya itu milikmu, tertinggal”

“Aku sengaja meninggalkannya kok”

“Ha ? Kenapa ?”

“Karena… karena aku sering menginap” dia menggaruk kepalanya dan wajahnya memerah. Is she blushing ?

“Oh ya ?”

“Dan satu lagi.. aku mau menjadi bagian hidupmu. Aku mau beberapa barangku di tempatmu jadi aku seolah-olah terhubung denganmu.. ah aku ngomong apa sih”

Aku menahan senyumanku

“Intinya.. aku mau kita terikat dan aku mau masuk ke dalam area pribadimu.. eh kok.. mak..maksudnya. Intinya. Aarrgghh” dia mulai frustrasi mencari kalimat. Aku mengerti maksudnya tapi aku masih ingin mendengarnya ditambah dirinya yang gugup terlihat imut

“Aku mau  terlibat lebih jauh denganmu. Aku mau menjadi bagian dari dirimu. Kamu mengerti maksudku, kan ?”

“Hahaha iyaaa. Aku mengerti. Terima kasih Tiff. Nanti aku sediakan 1 bagian kosong di lemariku untukmu”

***

“Hey guys sini ! Duduk di sini !” sambut Sooyoung

“hei” kami langsung duduk

“Jadi, ada promo jika kita bisa menyelesaikan 1 bowl ice cream which is 10 scoop, kita bisa mendapat kupon untuk 10x makan dessert”

“Oh wow, kita baru datang dan kamu sudah mengoceh. Please Syoo kita sudah kaya  dan kamu masih mau kupon 10x makan dessert ?” kata Tiffany

“Yup. Bad idea ?”

“Sounds nice ! Let’s go !”

Mereka memesan semangkok besar ice cream dan yep benar-benar sangat besar ditambah dengan kacang, M&M, saos coklat dan strawberry plus 5 pocky yang ditancapkan. Ewh melihatnya saja aku sudah langsung terkena diabetes

Aku hanya makan 1 scoop rasa coklat dan sisanya dimakan oleh Tiffany dan Sooyoung. Setelah menghabiskannya mereka sangat bangga dengan kupon yang diberikan. Mereka terlihat sangat konyol

***

Esok harinya, aku berlari kecil ke apartemen Tiffany dan memencet belnya berkali-kali. Kegiatan shoppingku hari ini terhenti karena dia

“Oh God. Kamu kenapa ?” tanyaku sambil masuk ketika dia membuka pintunya

“Aku sakit, sedang apa kamu di sini. Pulanglah” dia terlihat lemas dan wajahnya merah

“I knew it ! Karena es krim itu kan !”

“Tidaak aku hanya uhuk uhuk kecepean uhuk” batuknya sangat kencang dan terdengar seperti batuk kering. Dia mengambil tissue dan membuang ingusnya

“Ayo tidur. Kamu perlu istirahat”

“Sudah pulanglah” aku tetap bersikeras menarik lengannya dan mendorongnya ke ranjang “Jessie, sakitku akan sembuh sendiri. Aku hanya perlu tidur, minum obat flu ku dan sirop obat batukku”

“Sudah tidur I’m in charge right now” aku ke dapur dan membuatkan….. membuatkan apa ? aku membuka kulkasnya dan hanya ada coklat, wine, soda, cake. Tidak ada bahan makanan. Cara terakhir tentu saja menelpon delivery

***

“Ayo aaaaa” aku menyuapinya sesendok bubur

“Kalau cuma delivery aku juga bisa sendiri”

“Sudah diam. Udah sakit bukannya diam malah ngomel” aku memastikan kembali panas tubuhnya sudah turun

“habis makan minum obat flu lalu minum obat siropnya”

“Iya tante. Cerewet” uukh aku ingin menjitak kepalannya, untung saja dia lagi sakit

“Ngomong-ngomong. Aku sudah lama sekali tidak ke sini. Mungkin sekitar 2 tahun. Itu karpetmu dulu pink sekarang menjadi putih lalu kamu beli rak buku dan kursi malas dan sepertinya dapurmu juga sedikit berbeda, lalu tentu saja Tvmu diganti. Aku kira kamu mau renov semua apartemenmu menjadi pink”

“Memangnya aku psikopat apa ? Tentu saja aku juga perlu warna natural”

“Hmm let me think kenapa aku hampir tidak pernah ke sini”

“Tentu saja karena peratur…ups”

Mataku melotot dan memukulinya berkali-kali

“aargghh arghh stop it ! sakit ! Hei !”

“Dasar bodoh ! Kamu masih punya peraturan konyol seperti itu sampai aku tidak boleh ke sini ! rasakan !”

“TENANG DULU !” dia memegang kedua lenganku “Itu dulu ! Peraturan itu bukan untukmu tapi ke semua wanita yang kubawa kemari. Sekarang tentu saja pengecualian ! Kamu.. kamu boleh ke sini kapanpun kamu mau”

“Kamu menyebalkan”

“Dengar dulu ! Kenapa aku selalu ke tempatmu atau selalu pulang ke rumah wanita yang jadi sasaranku, itu karena akan sangat susah mengusir mereka setelah aku puas”

“You’re an asshole. You’re fucking asshole”

“Tapi.. dengar dulu.. Itu dulu ! Sekarang kamu boleh ke sini kapanpun dan boleh menginap semaumu. Buka lemari bajuku”

“Kenapa ?”

“Sudah buka saja”

Aku berjalan ke walk in closetnya dan melihat ada slot kosong di paling pinggir

“Sudah lihat ? Itu untuk bajumu. Aku meninggalkan bajuku di apartemenmu dan aku juga mau kamu meninggalkan bajumu di apartemenku. Aku mau kamu menjadi bagian diriku”

Aku speechless dan hanya berdiri mematung memandanginya

“Aku serius Jessie. Mungkin langkah pertama tinggalkan sikat gigimu di sini jadi kamu bisa menginap. Aku mau hubungan kita lebih dalam”

Aku tersenyum lebar dan mengambil kantong plastik yang kubawa daritadi. Aku mengeluarkan sikat gigi baru dan menaruhnya di kamar mandi. Kemudian aku menaruh semua baju yang kubelanjakan di lemarinya

“Aku juga mau meninggalkan barangku di sini”

Dia tersenyum lebar dan menunjukkan eye-smilenya. Aku memeluknya dan hendak menciumnya namun dia menghindar

“jangan nanti kamu tertular” aku mencium kedua pipinya dan dahinya

“Okay, sepertinya kamu akan baik-baik saja. Aku pulang ya”

“Tunggu Jessie” dia menarik bajuku hingga aku sedikit mundur “jangan pergi” matanya menunjukkan puppy-eye yang menggemaskan

“Kamu perlu istirahat”

“Ta… tapi. Sejak aku sering menginap dan terbangun di sampingmu, aku merasa nyaman. Aku seperti merasa hangat. Jadi please menginaplah. Aku sakiiittt” dia mulai berakting sok lemas

“Don’t play victim”

“Pleaseeee”

“Okaaayy okaaayyy. Astaga sakit mengubahmu menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Dulu kamu tidak mau membawa seseorang ke rumahmu karena takut mereka menginap. Sekarang malah kamu memaksaku menginap”

“Kamu merubahku”

“Whatever, aku mau mandi” dari senyuman manis berubah menjadi smirk sexy andalannya

“You can go out naked and hug me all night long. You’re more beautiful when you’re naked”

“PERVERT !”

*******************

Hai semua apa kabar ?? Maaf ya sedikit lama updatenya LOL

Btw dah pada nonton Logan ? Duh sedih ya Hugh Jackman terakhir jadi Wolverine. Oom tampan multi talented yang udah nemenin kita selama 17 tahun di film X-Men

Cuma ya klo Hugh Jackman karir dia mah cemerlang lah. Wong anak broadway tus film dia selain X-Men juga bagus-bagus. Kyaaaa Oom kyaaaaaa.

Tapi kayaknya emang sekarang aktor/aktris superhero punya karir bagus deh di luar film superhero mereka. Dan emang rata-rata yang dipilih tuh udah terkenal sebelumnya kaya Ben Affleck (Batman) atau Benedict Cumberbatch (Dr. Strange). Mungkin buat hindari stereotypical kali ya. Kalo dulu biasanya aktris/aktor pasca-superhero karirnya rata-rata mandek.

Btw aku list deh superhero paling cakep menurutku

  1. Superman (Henry Cavil duuuhh bikin ngiler)
  2. Captain America (Chris Evans si tampaannn)
  3. Deadpool (Oom Ryan Reynolds yang humoris)
  4. Wolverine (Baca paragraph atas. Oom Hugh Jackman si Mr. Nice Guy)
  5. Thor (Beautiful Chris Hemsworth)

Kalau kalian siapa ? Komen ya hehe

Three Stupid Words : Chapter 4

“Jadi Syoo. Menurutku memang lebih baik aku membuka cabang di NYC lalu dari sana..”

“Terlalu beresiko astaga. NYC itu sangat rawan dan kenapa dengan cara jalanmu ?”katanya dengan menunjuk sepatu Gucci ku terbaru setinggi 9 cm

“Ini sepatu baru ! Masih sakit !”

“Jangan dipakai jalan jauh kalau begitu. Kamu tahu kita sedang shopping di Gangnam Street. Banyak jalan”

“Tapi aku ingiiinn”

Kami berjalan dan terus berdebat seperti biasa, aku tidak memperhatikan sekitarku dan… terjadi insiden

“GYAAAAAA”

“SICA !”

***

Tiffany POV

Trrrrttt trrrttt

“Hai Syoo aku sedang sibuk”

“SIBUK APA ?”

“Aku sibuk membaca Cosmopolitan”

“CEPAT KE RUMAH SAKIT !”

“Ha ? Kamu sakit ?”

“Bukan, Sica yang sakit”

“SAKIT APA DIA ?!!!”

“Tadi pagi terjadi sedikit insiden”

“APA ? ACCIDENT ? DIMANA ? DIA MASIH HIDUP ?”

“Masih Tiff. INSIDEN bukan ACCIDENT”

“Oh God. Dia ditabrak mobil ? Accident di jalan … tol ? Dia sekarat ?”

“Hoi Tiff !!!”

“AKU SEGERA KE SANA !”

***

Oh God oh God oh God oh God

Sepanjang jalan aku terus panik. Aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi apa-apa dengannya. Bagaimana kalau dia koma lalu amnesia lalu seperti di Kdrama lainnya. BAGAIMANA

Akhirnya aku sampai dan langsung mencari UGD. Seluruh ranjang tertutup tirai, dimana dia ? DIMANA ?

“Suster… hemm dimana..”

“Dimana ?”

“Dimana.. teman saya …?”

“Mana aku tahu ! Memangnya ini Drama Korea apa ?”

“Mak.. maksudku Jes.. Jung SooYeon”

“Hooo… di tirai itu” katanya sambil menunjuk tirai di tengah dekat tembok

“Terima kasih banyak !” aku segera berlari ke tempat itu dan setelah kubuka, ku lihat seorang yang pasti wanita dengan rambut cokelat tua dan wajahnya lebam dimana-mana. Dia tidak sadarkan diri dan tangan kakinya dipasang gips

“Oh my God” lututku lemas, aku hampir terjatuh. Aku berusaha mengatur nafasku yang tercekat

“Jessie… no… oh my God… no…”

Sreeekk

“Tiffany ..?” Jessica Jung yang asli menatapku dengan keheranan. Kulihat hanya kaki kirinya yang diperban.

“Lho ?”

“Kamu ngapain, bodoh ?”

“Aa… aku..” aku langsung pindah ke tempat dia dan menutup gordennya

“Mana Sooyoung ? Kenapa dia meninggalkanmu sendiri ?”

“Tadi dia ada syutting jadi aku langsung menelponmu untuk menjemput. Soalnya kalau naik taxi atau uber repot”

“Kalian mengagetkanku saja. Aku kira kamu kenapa. Jadi kakimu terkilir ?”

“Iya tadi aku pakai high heels baru lalu yah gitu deh”

“Makanya jangan sering-sering pakai high heels. Apalagi kalau masih baru. Aku dengar accident dari Sooyoung, bukan insiden”

“Tadi dia bilang INSIDEN bukan ACCIDENT. Pfft kamu salah dengar ya ? hahaha”

“Sudah diam, ayo pulang”

***

Jessica POV

“Yak sampai” Tiffany merebahkanku di tempat tidur. Dia memapahku dari mobil hingga naik ke apartement

“Thanks Tiff, you can go”

“What the… kamu tidak mau aku tinggal ?”

“Ma.. mau” kataku dengan wajah merah. Mengetahui aku yang salah tingkah dia mendekatkan wajahnya

“Mau mandi sekarang ?” katanya dengan senyum liciknya yang sexy

“Mandi ?”

“Iya, kata dokter perbanmu tidak boleh kena air. Aku akan membantumu dan…” dia berbisik hal-hal kotor, mesum dan aku menyukainya

“Okay, let’s go” aku segera menarik kerah kaosnya dan dia membantuku berjalan ke kamar mandi

***

Jam telah menunjukkan pukul 8 dan Tiffany berinisiatif menelpon delivery. Setelah mandi Tiffany menservisku habis-habisan mulai dari membawanku air, snack, menyelimutiku. Sejujurnya, walaupun dia tidak melakukan apa pun, aku senang dia ada di sini.

“hei kamu mau makan apa ?”

“Pizza”

“Errr better not.. bagaimana kalau bubur ? Kamu kan sakit”

“Yang sakit kakiku bukan tengorokanku. I want pizza N.O.W”

“Okay princess… gosh !” aku merasa menang telah mengalahkannya. Hari ini aku menjadi princess 100% dan dia menjadi pelayanku

***

“Tiff…”

“Hmm ?” katanya sambil memasukkan pizza ke dalam mulutnya

“Terimma kashhiihh”

“Hahaha kunyah dulu”

“Ehm terima kasih maksudku”

“Tidak apa-apa. Aku senang berada di sini” tangannya membelai kepalaku dengan lembut

“Kamu memperhatikanku padahal kamu pasti sibuk”

“Tidak juga, aku sedang lowong dan lagipula… Lagipula aku waktu mendengar terjadi sesuatu padamu, aku tidak berpikir jernih sampai-sampai tidak bisa membedakan insiden dan accident. Tiba-tiba kepalaku isinya hanya kamu”

Kami terdiam beberapa saat

“Dan.. itu berarti kamu menyayangiku ? Kamu sayang padaku Tiff ?”

“Aku peduli padamu, Jessie”

“Apakah kamu mencintaiku ?”

“Jessie please..”

“Tiff jawab mmmphh” dia memasukan seluruh potongan pizza ke mulutku

“Kamu bawel hahaha”

***

Jam 12 malam setelah marathon episode Game of Throne dia merebahkanku di ranjang

“Okay, nite. Aku pergi dulu ya” tanganku otomatis meraih bajunya

“Jangan pergi”

“Kenapa ? ini sudah malam, kamu perlu istirahat juga”

“Sini, bermalam di sini. Bagaimana kalau mendadak aku terjatuh, atau tersandung atau terserang penyakit jantung. Aku bisa mati sendirian di sini. Aku tidak mau mayatku membusuk. Aku mau dikubur dalam keadaan cantik”

“Kamu berlebihan”

“Tidak. Ayo Tiff, sudah larut juga, nanti kamu kenapa-kenapa. Pleaseeeeee”

Dia tersenyum membelai kepalaku

“Okay, aku mau mandi dulu dan aku pinjam piyamamu ya”

***

Kami berdua terjaga dan hanya menatap langit-langit. Kami tidak mengucapkan sepatah kata pun

“This is bad” katanya

“Why ?”

“Kita tidur bersama seranjang tanpa melakukan apapun. Ini salah”

“Iya kenapa”

“Karena kita akan terlihat seperti pasangan biasa. Seperti sepasang kekasih atau bahkan pasangan yang menikah. Lebih parah. Pasangan menikah 20 tahun dan tidak melakukan seks lagi. Ewwwhh ”

“Aku tidak ngerti. Tidurlah Tiff, anggap saja kita sleepover sebagai teman” aku membalik tubuhku ke kanan, membelakanginya.

“Tapi… tapi aku tidak mau cuma menjadi temanmu” dengan kalimat itu dia sukses membuat jantungku berdegup kencang.

“Aku mau lebih dari teman” bisiknya dan membalik tubuhku. Bibirnya menciumku dengan lembut

“jadi.. kau mau lebih dari teman tapi bukan kekasih ?”

Sshhh” dia menciumi leherku

“Answer me Tiff. So you wanna be my gir..” tanpa menyelesaikan kalimatku, dia kembali mencium bibirku dan memasukkan lidahnya. Aku segera lupa dia belum menjawab pertanyaanku

Dia membuka bajuku dan menciumi tubuhku dari leher hingga pinggang

“Yang ini aku harus hati-hati” katanya sambil tersenyum. Tiffany membuka celanaku dengan hati-hati dan kembali menciumku

***

Pagi telah tiba dan aku yakin dia tidak akan ada di sampingku. Aku sudah siap menghadapinya

“Morning” suara husky itu terdengar dari belakang “Aku memelukmu semalaman dan ini terasa nyaman” tangannya masih memelukku dari belakangan dan semakin erat

“You’re staying”

“Yes, I am. Dan aku akan terus di sini sampai kamu puas”

“Aku senang, kamu di sini. Kamu melanggar peraturan terbesarmu. Menginap”

“Yes, dan aku tidak peduli sama sekali. Aku cuma mau di ranjang denganmu”

Aku tersenyum lebar dan kembali memejamkan mata. Aku kembali menang

***

Aku membuatkan pancake siap saji dan kopi untuk sarapan. Seperti kata Tiffany tadi pagi, kami seperti pasangan pada umumnya

“Yak, aku ada janji dengan bos untuk aransemen lagu. Bye” dia menciumku sebelum pergi dan menutup pintu

Tidak lama dia kembali sambil tertawa

“Aku sudah gila. Aku melanggar 3 peraturanku. Jangan menginap, jangan sarapan bersama dan no kiss bye. What the hell. Ada apa denganku ?” setelah mengatakan itu, dia kembali pergi

**********************************

Halo halo semua. Ini post pasca pilkada. Kenapa sih tiap aku post selalu aja ada kejadian politik. LOL

Daripada bicara hasilnya, apakah kalian make tinta di jari buat promo diskonan ? LOL

Sudahlah, tadi semua makanan kerasa penuh. Semacam semua manusia tumpeh di mall terus incer promo. Dari makanan mahal sampe murah

Starbucks ga usah ditanya deh antrenya. Udah kaya mau nonton konser. Haagen Dasz trus Cold Stone udah penuh orang. J.Co juga sama Hop Hop, Dairy Queen sana Shilin. Mantap bener deh. Ya kalo dipikir kapan juga sih promo diskon ampe kaya gitu.

Ujung-ujungnya aku ga make promonya saking padatnya. Sisi positifnya, jalanan kosong melompong sih.

Lumayan libur tambahan LOL

Three Stupid Words : Chapter 3

“Hai morning” sapa Tiffany di depan pintu apartemenku

“Hai, ayo masuk dulu. Aku bersiap-siap dulu”

Dia merebahkan dirinya di sofa dan membaca cosmopolitan milikku

“Jadi, hari ini kita akan berkencan huh?” aku melangkah ke kamar untuk berdandan. Kubiarkan pintunya terbuka

“Kencan? No way. Tujuan hari ini kan ingin mencarikan Yul kado. Jadi ini bukan kencan Jessie. Lagipula aku masih belum ada ide mau beli apa” katanya sambil masuk ke kamarku

“Pikirkanlah Hwang. Dan katanya kamu mau nonton Fantastic Beast ?”

“Yessss. Itu tujuan utama hari ini. Untung kamu mau menemaniku nonton” aku tersenyum dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajuku.

“Tiff bantu aku dengan resleting belakang” Tiffany melihat punggung atasku seperti hewan buas. Dia tidak tahan dan menciumnya dengan lembut

“Tiff.. No… kita mau pergi”

“Sebentar saja?” bisiknya dengan suaranya yang seksi

“Nope. Pasang resletingnya N.O.W”

“Okay.. okay woah Princess”

***

Aku berjalan-jalan di Coex Mall dan tidak menemukan sesuatu yang bagus untuk Yuri. Semua baju, sepatu ataupun kacamata terasa kurang. Suasana Natal sudah mulai menghiasi mall. Sebenarnya daripada mencari kado, aku lebih penasaran apakah ini kencan, atau hanya 2 orang teman berjalan-jalan. Aku meyakinkan diriku kalau ini kencan

“Hei Jessie,  sudah waktunya untuk nonton. Nanti kita cari lagi”

“Okay. Sepertinya ada yang sudah tidak sabar dengan Fantastic Beast” kataku sambil merangkul lengannya

“Iya, aku. Aku selalu excited dengan Harry Potter. Dan kamu tidak excited dengan apa pun” dia mengacak-acak rambutku

“Enak saja ! Kamu suka over. Dasar nerd !”

“Bawel sekali Jung” dia merangkulku dengan erat. Ini kencankan ?

Di bioskop tangannya menggengam tanganku dengan erat. Beberapa kali dia melepasnya untuk minum atau merenggangkannya, tapi dia selalu kembali meraihnya. Ini membuatku gila. Kenapa dia menolak mengakui kalau ini kencan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau belikan Yul mesin Espresso?”

“Ide bagus. Kamu jenius”

“Terima kasih atas pujiannya yang jarang diberikan sekalipun aku hebat di ranjang”

“Sssssstttt kecilkan suaramu bodoh !”

Tiffany Hwang, walaupun dia sering kuejek atau kupukul, dia akan selalu tertawa dan tersenyum. Kemudian memelukku, menciumku dan berlanjut ke ranjang. Mungkin karena sifatnya yang seperti itu, aku jadi jatuh cinta luar biasa.

“Tiff, akuilah ini kencan,kan ?” aku masih bertahan dengan pendirianku

“Ini bukan kencan. Aku tidak mau melanggar peraturanku. Kita hanya sepasang sahabat yang mencari kado untuk sahabat lainnya” katanya sambil berjalan di depanku.

Langkahnya terhenti dan dia berbalik ke arahku. Melihat diriku yang murung, dia tersenyum manis

“Tapi, walaupun ini bukan kencan, aku bisa menggandeng tanganmu”

“Whatever”

“Jung, jangan ngambek donk” kami berjalan bergandengan dan aku sedikit kesal dengannya

Setelah barang dibeli dan dibungkus, kami segera pergi ke restaurant sushi tempat Yuri merayakan ulang tahunnya. Di mobil aku hanya dia dan masih memendam rasa kesalku. Apakah aku egois ?

“Kamu masih kesal denganku?”

“…”

“Kita mau bertemu the girls. Yuri berulang tahun. Hei Jessica Jung”

“…….”

Tiffany menghela nafasnya “Baiklah, aku mengakui kalau tadi kencan dan aku mematahkan peraturanku jangan berkencan”

“Aku tidak suka kalau kamu mengakuinya dengan terpaksa”

“Tidak.. ini benar. Ini kencan. Kita jalan bareng, makan siang, nonton, jalan bergandengan, berangkulan. Kita tertawa dan bercanda. Aku mengakuinya. Aku .. hanya benci mengakui kalau aku kembali melanggar peraturan”

“Sungguh ?”

“Apalagi aku sudah melanggar peraturan no cuddle more than 5 minutes. Jadi yah, ini kencan”

Aku tersenyum sedikit “Taruhan kita masih berlaku kan ?”

“Please aku benci taruhan itu. Aku benci memikirkan kalau kamu akan pergi”

“Berusahalah Hwang” aku menepuk bahunya

Akhirnya kita sampai dan bertemu Yuri and the girls. Mereka heboh menyambut aku terutama karena datang dengan Tiffany

“Happy birthday Yul” aku mencium pipinya

“Wow kamu datang. Terima kasih dan apa ini ? Besar sekali kadoku”

“Ah hanya mesin kopi biasa”

“Biasa ? ini Luar biasa ! Ayo duduk pesan minum !”

Aku berbincang banyak hal dengan mereka. Sudah lama kami tidak seperti ini. Tawa kami memenuhi restaurant dan tidak bertahan lama setelah… Han Yeseul datang. Wait what ?

“Yul, kenapa kamu mengundan dia ? Ke-na-pa” bisikku

“Dia temanku. Wajar donk seorang teman mengundang temannya. Dia tidak datang sendiri. Itu dia datang dengan Narsha, Hara. Itu Hara lalu Jihyo”

“Maksudku, kamu masih berhubungan dengan Han Yeseul ? Tau ga gosip kamu..”

“Sica teman… teman” Yuri hanya tertawa melihatku

“Hai Sica” Hara menyapa memelukku

“Hai kamu datang dengan Yeseul itu ?”

“Yep, lokasi shooting kami dengan jadi yah sekalian saja. Kamu terlihat tidak senang malam ini”

“Senang kok. Tentu saja senang bertemu denganmu” aku merangkulnya dan duduk di sebelahku. Tunggu Yeseul itu kenapa duduk di sebelah Tiffany yang juga tepat di depanku

“Hai Sica”

“Hai unnie, senang sekali melihatmu”

“Iya, kamu terlihat sehat. Bisnismu dimana-mana”

“Terima kasih unnie. Semoga ke depannya kita berkembang”

“Oh hai, unnie” sapa Tiffany yang baru kembali dari toilet. Dia cukup kaget dengan Yeseul duduk disebelahnya

“hai Tiffany, keberatan aku duduk di sini ?” damn that sexy voice

“Tentu tidak. Untuk gadis secantikmu. Aku tidak keberatan kamu duduk dimanapun” damn that son of a bitch. Tiffany asshole !

Inilah aku sepanjang malam yang seharusnya menikmati kebersamaan dengan para member dan teman-teman lainnya, malah melihat orang yang kucintai saling menggoda dengan unnie yang sexy, cantik, pintar. Kenapa aku justru memujinya ?! Kenapa ?!

Sesekali aku tertawa dengan jokes Hyoyeon, atau kekonyolan Yuri di hari ulang tahunnya. Tapi mataku tidak bisa berhenti melihat Tiffany dengan tantenya yang mana bekasnya Yul. Gross.

Sepanjang malam mereka berdua saling berbisik dan tertawa. Tangan Yeseul memegang lengan Tiffany. Mata mereka saling memandang dengan intens. Tiffany melihat unnie barunya seperti singa melihat daging segar. Aku baru sadar jarak muka mereka hanya 3-4cm. IYA SEDEKAT ITU

“Tiff, bagaimana kalau kita pindah ke bar. Aku ingin bicara lebih banyak denganmu. Ada rahasia yang mau kuceritakan” katanya sambil melihatku. Tunggu, dia melihat ke arahku ?

“Well, okay”

Mereka duduk di bar dan punggung Tiffany membelakangiku. Aku tidak tahan.

“Hara aku pulang dulu ya”

“Lho kenapa? Ini baru jam 11. Tunggu dulu lah”

“Tidak, aku lelah Hara. Aku sudah pesan uber”

“Mau kuantar ?”

“Tidak usah”

Aku berdiri dari kursiku “Bye Girls”

“Yah Sica, kenapa cepat sekali ?”

“Aku lelah, bye semuanya. Kapan-kapan kita nongkrong lagi ya” aku keluar dari restaurant untuk menunggu uber

“Sica tunggu !” Yuri menyusulku keluar

“Yul hei, di luar dingin. Masuklah”

“Kuantar ya !”

“Jangan, ini ulang tahunmu. Nikmatilah. Masuk sana ke dalam. Aku juga sudah pesan”

“Tidak, aku antar”

“Aku sudah pesan uber Yul. Masuklah. Serius”

“Ini… tentang Tiffany kan ? iya kan ?”

“Bukan Yul. Aku lelah, aku perlu istirahat”

“Tidak, ini pasti tentang dia. Sica, aku minta maaf telah mengacaukan hari ini. Seharusnya aku tidak mengundang wanita itu”

“It’s okay Yul. Aku baik-baik saja. Ah jemputanku sudah datang. Bye Yul,  happy birthday” aku memeluknya dan mencium pipinya sebelum pergi

***

Tiffany POV

“Lho mana Jessie ?” tanyaku. Mendadak mata semua member menatapku tajam seperti aku baru melakukan sesuatu yang luar biasa salah

“Pulang” jawab Yul dengan datar

“Ha? Pulang ? Dia naik apa ? Tadi dia datang denganku”

“Uber”

Suasana sepertinya sedikit tidak enak. Yeseul unnie telah kembali dari toilet dan memeluk lenganku

“Mau ke tempatku, Hwang ?”

“Absolutely”

Bagus juga Jessie pulang, aku bisa pulang dengan unnie yang hot ini. Iya.. bagus juga…

***

Kami sampai di rumah Yeseul. Aku sudah tidak tahan sejak melihatnya. Dia begitu.. menggoda dan dewasa. Sepanjang jalan dia terus meraba pahaku selagi aku menyetir. Damn !

Tapi.. kenapa mendadak aku memikirkan Jessie. Jahat sekali aku meninggalkan dia malam ini sendirian, pulang sendiri. Seharusnya aku yang mengantar dia pulang

“Ayo Tiffany, turun”

“Eh iya, unnie. Turun duluan saja. Aku .. aku mau ..” ayo beri alasan ! “Ah aku mau menelpon kakakku dulu. Dia tadi menanyakan kabarku. Dia gampang cemas. Lagipula… sebaiknya unnie turun saja dulu. Bersiap-siap untukku” kataku dengan menggoda

“Ooh oke.. aku tunggu ya”

Okay, calm down Tiffany. Kamu akan turun dan menghadapi Han Yeseul, walaupun dia mantan Yuri, tapi dia sangat HOT. Kamu tinggal turun dan bersenang-senang, jangan sampai perasaan bersalahmu membuatmu moodmu turun.

Aku menarik dan menghembuskan nafasku. Kenapa wajah Jessica mendadak muncul ! Kenapa tubuhku tidak mau turun dari mobil. Kenapa aku malah mau menemuinya dan minta maaf ? Kenapa kakiku menginjak gas dan pergi ?

Ups

***

Jessica POV

Jam 11 dan aku menikmati me time dengan menonton Notting Hill sambil minum wine. Ooh aku ingin seberuntung Julia Roberts mendapatkan Hugh Grant. Kapan aku bisa mendapatkan soulmate

Malam ini berat sekali. Bukannya aku mendapatkan Tiffany, malah dia pergi dengan orang lain. Terserahlah. Aku malas mengingatnya

Tok tok tok

“Siapa sih jam segini” setelah kubuka, ternyata adalah Tiffany. Dia tidak bersama wanita itu ?

“Tiff ?”

Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menciumku dengan dalam. Dia memelukku dan mendorongku menuju kamar dan menjatuhkanku di ranjang

“Apa yang kau lakukan di sini ? Kenapa kamu tidak pulang dengan Yeseul ?”

“Aku tidak bisa.. aku tidak bisa melakukannya” dia membuka mantelnya kemudian sweaternya

“Kenapa ?”

“Entah.. aku tidak tahu. Waktu itu aku memikirkanmu. Aku minta maaf telah meninggalkanmu. Aku seharusnya mengantarmu pulang”

“Aku tidak mengerti”

“Maafkan aku Jessie, maafkan aku. Aku hanya… aku tidak bisa melakukannya jika bukan kamu. Aku tidak mau melakukannya, jika bukan denganmu”

“Apa ?”

“Aku cuma mau melakukannya denganmu. Aku tidak bisa kalau bukan kamu” dia menciumi leherku dan membuka hoodieku dan kausku. Tangannya turun dan membuka celana pendekku.

Aku membuka baju dan celananya. Malam ini Tiffany bergerak cepat seperti terburu-buru. Dia berkali-kali menciumku dengan sedikit kasar dan dengan gigitan kecil.

Nafas kami berderu. Aku mencakar punggungnya beberapa kali.

“I Love you Tiffany” bisikku. Dia berhenti dan menatapku dengan ragu

“Jessie.. aku…”

“Ssssttt… tidak apa. Kamu tidak harus merespon. Aku hanya mau menyatakannya. Malam ini aku tidak akan menyembunyikannya lagi”

Dia tersenyum kecil dan menggigit bahuku “I love you Tiffany. Love you so much” kataku sepanjang malam. Entah it feels so right setiap aku mengucapkannya

***

Grrrkk grrrk

Aku terbangun dengan suara berisik

“Nggghh jam berapa ini” samar-sama aku melihat Tiffany sudah berpakaian lengkap dan memakai jam tangannya

“oh maaf membangunkanmu”

“jam berapa sekarang”

“Jam 7 pagi”

“Oh my God, masih pagi sekali” aku mendengar Tiffany tertawa

“Aku pergi dulu ya. Lanjutkan tidurmu” dia terdiam dan mencium bibirku “goodbye’

Dia keluar dari kamarku dan tidak lama dari apartemenku. Aku masih sangat teler untuk mengingat yang terjadi. Tunggu. Tadi Tiffany menciumku sebelum pergi, berarti dia melanggar peraturan no kiss bye .Kemarin Tiffany datang jam 12 malam lalu pergi jam 7 pagi. Berarti… dia menginap,kan ?

Dia melanggar peraturan terbesarnya yaitu menginap denganku

**********************************************

Hayo hayoooo aku sensor ya. Yang masih kecil jangan di baca.

Bete ga sih sama Tiffany di sini ? Rada nyebelin ya ? haha. Maen ninggalin Sica sama sexy unnie. Hayoo siapa yang sebel jugaaa angkat tangaann

Anyway. Resident Evil biasa aja ya. Lee Junki nya muncul cuma sedikiiitttt. Tapi ya ga papa lah. Udah film terakhir.

Alice tuh salah satu jagoan cewe paling keren sebelum Katniss di Hunger Game atau Rey di Star Wars. Doi lawan zombie dari tahun 2002 – 2017 plus dikejar Umbrella Corporation pula. No drama no boys juga.

Mantap. Film February yang bakalan rilis ada Beauty and The Beast (kyaaa Emma Watson) trus Lego Batman dan 50 shades of darker *terdengar suara cambuk*

Sampai chapter berikutnya !

Three Stupid Words : Chapter 2

“AKU MENGATAKANNYA DAN AKU MENYESAL !”

“Sica kecilkan suaramu astaga. Memalukan sekali” kata Sooyoung

“Syoooo aku menyesaaallll”

“Tidak, ini bagus. Lebih baik dia tahu daripada dia memperlakukanmu seperti ….”

“Seperti ?”

Sooyoung menggigit bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu “Ayo katakan Syo”

“KAU SEPERTI PELACUR” seru Sunny

“SSSSTTTTT !!!” aku dan Sooyoung langsung melihat sekeliling. Untungnya kafe ini sedang sepi dan kami di lantai 2 yang hanya diisi kami

“Soonkyu jangan bilang seperti itu. Sica tidak seperti pelacur”

“Tentu saja tidak ! Enak saja” bantahku

“Pelacur dibayar, dia tidak. Gratis malah”

“KALIAAANNN !!!”

“Tapi beneran deh hubungan kalian apa sih ? Katanya temen tapi kok mandi bareng ?” goda Sunny

“Whatever. Terserah kalian. Aku pusing. Sudah kerjaan banyak, Tiffany begitu, kalian tidak membantu”

“Jangan marah donk Sica, lihat sisi positifnya. Tiffany menjauh dan kamu bebas makan apa pun. Tidak ada yang melihatmu telanjang lagi. Sini biar aku pesan parfait paling besar”

“Bisa kita hentikan pembicaraan jorok ini Soonkyu ? Bisa ? Bisa hilangkan kata telanjang, seks ?”

“Siap Letnan !”

***

Tok Tok Tok

Pintu apartemenku diketuk dan setelah kubuka… Tiffany berdiri dengan eye-smile bodohnya (yang kusukai) sambil berdiri dan memegang bouquet bunga mawar putih

“Hai”

Blam

Reflek aku segera menutup pintunya. Aku perlu menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. KENAPA DIA ADA DI DEPAN PINTU ?! APA INI MIMPI ??

Aku kembali membukanya dan dia masih berdiri dengan senyuman mautnya

“Hai Jessie apa kab….” blam aku kembali menutupnya. Otomatis. Lalu membukanya

“Kau tidak capek apa ? Ayo ijinkan aku masuk” dengan santainya dia masuk dan memberikan bunganya untukku

“Hai ini untukmu. I miss you” dia mendekatkan tubuhnya dan hendak menyerang bibirku. Sekali lagi dengan reflek aku mendorongnya

“Apa ini ? Kemarin kau pergi mendadak lalu kau muncul tiba-tiba membawa bunga. Kau kira aku bisa disogok dengan bunga ?”

“Hei aku melanggar peraturan tidak memberikan hadiah. Aku membelikanmu ini lho tadi”

“Memang aku semurah itu bisa disogok dengan bunga heh ?” darahku semakin mendidih

***

“Haaah. That was awesome ! High five !” Tiffany mengangkat tangannya untuk tos. Yah mungkin aku sangat murah. Sekarang kita berbaring telanjang di ranjangku hanya tertutupi selimut.

Tidak ada kata lain selain menyesal. Aku menyesal menyerah dengannya. Kenapa aku sangat gampangan

“Hei Jessie high five ayoooo”

“Ga mau. Ini suatu kesalahan. Sudah sana pergi. Maumu sudah tercapai,kan ?”

“Ya jangan donk. Ayolah kenapa kamu marah terus” dia memelukku manja dan menciumi bahuku

“Kau menyebalkan. Sangat. Hilang 1 minggu dan muncul lagi”

“Karena aku rindu kamu”

“Bullshit. Kamu hanya menggunakanku saja”

“Tidak kok” aku kembali nyaman dipelukannya. Jujur aku juga merindukannya. Aku merindukan si asshole ini “jantungmu berdegup kencang”

“Tentu saja.. karena… kau tahu kan.. aku mencin..” piiipp piipp piiip AKU BENCI SUARA ITU !

“Jessie, sudah lewat 5 menit. Mungkin sebaiknya aku pergi” dia bangun dan berpakaian

“Tiff, aku mencintaimu”

“I know, kamu pernah bilang”

“Dan.. apa jawabanmu ?”

Dia berbalik sambil mengancing kemejanya “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana”

“Kamu tidak menyukaiku ?”

“Tentu saja tidak ! Aku senang berada di dekatmu”

“Kamu mencintaiku ?”

“Kalau itu…”

“Tiff ! Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku perlu kejelasan ! Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini ? Kau tahu Soonkyu dan Sooyoung bilang apa ?”

“Ha ? Kamu cerita ke mereka tentang kita ? Jessie ?!”

“Soonkyu bilang aku seperti pelacur”

“WHAT ? Tentu saja tidak ? “

“Tuh kan… aku bilang-“

“Pelacur itu dibayar, kamu kan tidak kubayar. Gratis. Yah sesekali aku traktir makan”

“APA ?!” aku melempar bantal tepat langsung ke mukanya

“ADUH !”

“Tiff aku perlu status ! Aku muak dengan kita seperti ini. Aku benci dengan peraturan konyolmu !”

“Jessie. Kenapa semua orang terobsesi dengan kata ‘love’ itu kata yang aneh bagiku.. aku.. aku benci kata itu”

“Aku mau kamu untukku saja !”

“Jessie… baiklah peraturan apa yang mau direvisi ?” dia duduk di kursi dan menggesernya ke dekat tempat tidur

“SEMUA !”

“Tidak bisa. Itu-“

“Aku tidak mau dengar. SEMUA ! Kalau kamu mau ini semuaaaaa” aku menunjuk dada hingga kakiku “hilangkan itu”

Kami terdiam.. dia memainkan rambutnya dan aku terus ingin mengoceh kepadanya. Tiba-tiba ide implusif terlintas di kepalaku

“Aku punya ide. Aku bisa membantumu menentukan hubungan kita dan juga perasaanmu”

“apa itu ?”

“Aku bertaruh dalam 4 bulan. Aku akan membuatmu melanggar semua peraturanmu. Saat kamu melanggar semuanya, aku yakin kamu juga akan mencintaiku”

“Pfft jadi maksudnya kamu akan membuatku jatuh cinta ?”

“Kurang lebih, aku akan membuatmu tunduk dalam 4 bulan. Mari bertaruh”

“Dan jika aku tidak berubah?” dia tersenyum sinis

“Aku akan menjauhimu. Kita akan berhenti dengan semua ini”

“Ha ? Jangan Jessie. Kenapa harus seperti itu ? Bagaimana jika kamu kalah, kau cukup mentraktirku ?” ekspresi wajahnya berubah panik

“Tidak, aku tidak mau menderita. Jika aku gagal, aku akan pergi karena aku tidak tahan dengan cinta sepihak” aku menyodorkan tangan untuk bersalaman

“Tidak mau”

“Ayo Tiff, sekali-sekali aku ingin egois”

“Tidak”

“Aku yang menentukan. Ayo jabat tanganku” dengan ragu dia meraih tanganku namun tidak menggerakkannya

“Aku tidak suka cara ini”

“Aku akan buktikan”

DAAAARRR

Tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat kencang dan turun hujan deras atau mungkin lebih cocok disebut badai

“Aku pulang dulu Jessie” aku menyalakan TV dan muncul chanel berita

Kepada seluruh warga Seoul, badai akan menerjang semalaman hingga besok pagi. Dimohon untuk saat ini tidak keluar rumah karen dikhawatirkan akan memburuk. Beberapa lampu di jalan mati dan polisi akan berjaga di sepanjang jalan

“Astaga, aku tidak percaya ini. Sangat kebetulan”

Aku tersenyum puas “Tiff sepertinya dewi fortuna memihakku dan kamu harus menginap di sini. Malam ini” aku menepuk tempat tidur

Dengan ragu dia kembali membuka bajunya

“Kamu tidak mau mati konyol di jalan kan ?” aku menariknya ke dalam pelukanku

***

Malam semakin larut dan ramalan cuaca sangat tepat, badai semakin menjadi. Tiffany telah melanggar peraturan jangan memeluk lebih dari 5 menit dan peraturan tentang menginap. Aku hanyut di dalam pelukannya di balik gelapnya malam.

“Tiff jangan pergi” bisikku

“Ya” dia merespon dengan dingin

***

Matahari di balik tirai menyilaukan mataku. Badai sudah pergi dan begitu juga Tiffany. Aku terbangun sendirian di ranjangku. Sendiri dengan sisi sebelah yang dingin. Dia pasti sudah pergi lama sekali waktu aku tidur.

Aku kecewa dan benci diriku. Aku benci sangat mencintainya dan rela melakukan apapun termasuk membiarkannya bertingkah egois

Air mataku menetes sedikit namun langsung kutahan. Aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah dan menyerah

Tiffany adalah hewan buas yang harus aku taklukan

 

***************************************

Halo halo semuaaa. Apa kabarnya ? Udah nonton Resident Evil ? Aku belum sih. Katanya Last Chapter. KATANYA ! LOL

Udah nonton video klip nya Taylor dan Zayn buat 50 shades of darker ? Gila keren abis. Taylor Swift itu salah satu artis yang pinter. Dia bisa ciptain lagu macem-macem genre dan emang kayaknya dia pinter banget. Klo Kpop kaya IU mungkin ya haha

Hmm soal FF aku, klo dipikir Sica mureh juga ya ? haha. Kenapa dah mureh amat *keplak kepala author*

Makasih ya udah dibaca

Bye bye

Three Stupid Words : Chapter 1

Jessica POV

“Yoona !”

“Unnie !” kami berpelukan. Baiklah biar kuluruskan, semua rumor kalau sejak kepergianku hubunganku dengan member bermasalah itu tidak benar. Sama sekali tidak benar kalau aku bertengkar dengan Yuri, Taeyeon atau siapapun. Kami hanya berbeda pendapat saja

“Lama sekali, bagaiman perjalananmu ke New York, China, Jepang, atau planet lain”

“Melelahkan sekaligus menyenangkan” tiba-tiba Hyoyeon datang menyusul dan memelukku

“Ini dia orang yang paling susah dicari”

“Hyo aku ini sudah superstar”

“Berisik” dia memukul lenganku dan tertawa

“Ngomong-ngomong unnie, sudah bertemu Tiffany unnie ?”

“Belum, aku belum bertemu dengannya”

Hyoyeon menatapku dengan sinis “Biar kuulangi pertanyaannya, kamu sudah bertemu dengan Tiffany”

Aku menggelengkan kepalaku “Belum Hyo”

“Belum ?”

“Belum sama sekali”

“Sudah tidur dengannya ?”

“Sudah kemar….” ups

“Astaga Sicaaaaa, kenapaaa ? Katanya kamu mau melangkah ke hubungan selanjutnya”

“Bagaimana bisa ? Tidak mungkin, dia itu seperti… tidak bisa diikat. Dia sangat liar dan…”

“blablablabla aku tidak mau mendengarmu memujanya unnie. Mau sampai kapan kalian begitu terus”

“Dunno, sampai kita bosan ? Sampai aku mengacaukannya dengan those 3 stupid words ?”

“Jadi kamu puas dengan keadaan kalian yang sekarang ?”

“Yah bagaimana.. aku ingin memilikinya tapi aku … tidak bisa Hyo”

“Saranku, nyatakanlah. Mungkin dia juga menyukaimu”

“Dia.. Hyo kemarin dia memberitahukanku peraturan yang dia buat sendiri. Mau dengar ?”

“Tentu” jawab Yoona dan Hyoyeon bersamaan

“jangan tidur bersama, kalau kau terpaksa menginap, cepat pergi sebelum pasanganmu bangun. Jangan makan pagi dengan dia, lalu jangan berkencan, jangan merawat saat sakit, jangan cemburu, jangan mengucapkan kata-kata romantis, jangan memberi hadiah, jangan terlibat secara emosional, no goodbye kiss, no morning kiss dan..”

“OH MY GOD !” mereka berdua sangat histeris

“Unnie, sudah lupakan, dia itu manusia macam apa sih”

“Lupakan, cari orang lain Sica, dia benar-benar kurang ajar”

“Tapi aku sukaaaa” kataku merajuk

“Menjijikan, sudah aku tarik perkataanku. Dia benar-benar menjijikan”

***

Aku dan Tiffany berbaring bersama setelah melakukannya lagi. 2 hari berturut-turut aku bertemu dengannya dan melakukannya terus. Seperti kecanduan

“High five !” kami saling tos. Tanda dia puas

“So… bagaimana harimu ?” dia merangkul bahuku dan berbisik. Suara husky nya sangat menggoda

“good.. aku bertemu dengan Yoona dan Hyoyeon, shopping makan, pulang dan bertemu denganmu dan melakukannya” aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Terus terang aku sangat nyaman dipeluk olehnya, dia sangat hangat dan aku suka harum tubuhnya.

Aku memeluknya dengan erat dan mencium bahunya

“Kamu benar-benar merindukanku ya ?”

“Sangat”

“Aku sehebat itu ya ?”

“Whatever” mataku terpejam dan mencoba menikmati hangat tubuhnya beberapa saat

Piiippp Piiippp Piiip

Aku langsung bangun dari pelukannya “apa itu ? Alarm kebakaran ?”

“Ooh bukan ini alarmku, waktu cuddle kita sudah lewat 5 menit”

“WHAT ?!”

“Iya, waktu cuddle, pillow talk, bermesraan setelah bercinta apapun bahasanya”

“5 MENIT ?”

“Iya 5 menit” dia bangun dari tempat tidurku dan berpakaian

“PERATURAN APA LAGI INI ?”

“Iya, jadi yang aku tahu, dengan hubungan kita yang seperti ini, tidak baik berlama-lama cuddle. Nanti bisa terlibat secara emosional”

“Tif.. aku tidak mengerti”

“It’s okay, nanti juga mengerti kok”

“Aku muak dengan semua peraturan konyolmu”

“Oh come on Jessie, ini baru sebulan kamu sudah mengomel” katanya sambil merapikan rambutnya

“Aku … aku tidak mau seperti ini. I Love you Tiffany”

Dia terdiam dan membalikkan badannya menatapku. Aku seorang superstar, CEO dan … saat ini aku dengan menyedihkan menyatakan cinta ke seseorang yang sangat brengsek

“Jess, why ?”

“ I DON’T KNOW TIFF ! Aku mencintaimu. Aku benci semua peraturan konyolmu. Aku mau menjadi milikmu dan kamu menjadi milikku”

Di terdiam dan memijat dahinya

“I have to go, goodnight Jessie” katanya sambil berjalan keluar kamarku. Tidak lama aku mendengar pintu apartemenku ditutup.

******************************************

Aku post FF ini sambil nonyon pelantikan Trump. Hari dimana Trump menang pemilu itu hari dimana aku yakin kalau Amerika sama Indonesia otaknya 11-12. Aku udah ga anggep warga negara Amerika pinter apa gimana.

Bayangin dari Obama ke Trump. 180 derajata brooo. Sebenarnya selain Trump, mungkin lebih bahaya Mike Pence, vice-president dia yang homophobic trus tipe orang ‘tradisional dan super konservatif’  dan bisa-bisa pernikahan sesama jenis dibatalin semua. Bayangin kaum gay yang udah berjuang puluhan tahun dihancurin harapannya. Ewh

Okay, stop cerita soal politiknya,

Jadi aku pernah beli ayam super pedes dan nikmat dan ada semacam kejadian

Aku : Mas cabenya banyakin

Mas : Oke, buat neng yang langganan, dikasih banyak

Aku : Sipp

Sambil nunggu ayam digoreng, muncul bapak-bapak

Bapak : Mas cabenya banyakin

Mas : Oke, buat bapak yang langganan, dikasih banyak

Aku : *LAH ?*

Lalu muncul mbak-mbak

Mbak : Mas cabenya banyakin

Mas : Buat mbak yang langganan pasti saya banyakin

Lah ? Semua orang digituin ? AKU KIRA AKU SPESIAL ! Kayaknya omongannya di template deh hmmm

Anyway, makasih ya udah bacaaa

 

 

Three Stupid Word : Prologue

Jessica POV

What a bad day, pesawat delay, macet 3 jam di tol dan koperku yang berat sempat terjatuh. Aku benar-benar harus beristirahat. Aku membuka semua bajuku dan mandi air hangat untuk membuat tubuhku rilex. Di bawah pancuran aku memikirkan design untuk Blanc selanjutnya serta strategi bisnis dan sebagainya. Kenapa aku tidak bisa tenang sama sekali

Setelah selesai, aku memakai bathrobe dan terdengar suara bel di depan apartemenku, aku tahu itu siapa. Tanpa melihat ke lubang di pintu, segera kubuka dan sosok yang kunantikan telah datang dengan coat burberry berwarna coklat. Dia tersenyum sangat lebar

“Hello Jessica, menantiku ?”

“Tentu saja” Tanpa basa basi dia melepas bathrobe ku dan merebahkanku di sofa. Untungnya tanganku masih sempat membuka mantelnya dan dia mengenakan kemeja serta rok. Mulutnya menciumku dengan dalam dan tangannya memainkan tubuhku seperti biasanya. Dia sudah tahu spot favoritku. Nafasku berderu dan desahanku sangat kencang. Dia tidak terganggu sedikitpun dan justru menyukainya. Semakin kencang suaraku, permainnanya semakin liar.

“Ooh I Miss you” bisiknya

“I miss you too” tanganku mencakar lengannya. Mulutnya menggigit telingaku, iya dia memang sering sekali mengigit walau kadang dia melakukannya dengan kasar.

“apa kamu memikirkanku ?”

“Always” kataku yang kemudian menciumi lehernya

***

“Menginaplah” kataku sambil melihatnya membereskan pakaiannya

“Nope itu melanggar peraturan kita, ingat kita kan tidak pacaran”

“peraturan apa bahkan”

“Banyak, jangan tidur bersama, kalau kau terpaksa menginap, cepat pergi sebelum pasanganmu bangun. Jangan makan pagi dengan dia, lalu jangan berkencan, jangan merawat saat sakit, jangan cemburu, jangan mengucapkan kata-kata romantis, jangan memberi hadiah, jangan terlibat secara emosional, no goodbye kiss, no morning kiss dan…”

“Oh my God Shut up ! Tidak ada perjanjian seperti itu saat pertama kali kita melakukannya”

“Ah mungkin aku lupa memberitahumu. Kau ingin lawyerku membuat kontrak supaya bisa kita tandatangani ? hehe” candanya

“Terserah, kalau kamu mau pergi sana cepat  !” aku melemparnya dengan bantal

“Hehe okay. Good night Jessica”

“Good night Tiffany” Damn, I love her

****

Author Notes :

Halo-halo apa kabarrrr. Udah 1 tahu ga ke sini. Jadi masihkah kalian mendukung SNSD ? hahaha. Kangen juga mereka ga comeback. Jika ada yang mau tau keseharianku, aku lagi sibuk-sibuknya. SIBUK PARAH. Tapi otak buat FF malah jalan dan ga bisa ditahan LOL

Anyway FF ini bakalan super banyak NC nya dan tenang aja. Nanti aku sensor khusus buat yg di bawah umur. Ah klo masih di bawah umur kayaknya sih ga doyan SNSD. Sukanya girlband angkatan cabe-cabe deh hahaha.

Anyway, 2017 ini banyak film keren deh. Ga sabar mulai masuk bulan Februari. Hell yeah ! Siapin tiket nonton. Ingat kawan-kawanku. Film itu salah satu budaya yang sepanjang masa dan bisa dinikmatin dimanapun dan darimanapun asalmu haha

Terima kasih yang udah baca dan udah dukung blog ini ya

Sampai jumpa chapter berikutnyaaaa