Three Stupid Words : Chapter 9

“Hai, come in” katanya dengan senyum lebar saat membuka pintu. Tidak tunggu lama, dia menciumku dengan ganas dan mengigit bibirku

“uummh Tiff”

“Yeah Jessie..” dia membuka kancing blazerku satu per satu dan memasukkan lidahnya

“Mmh Tiff.. I Love you…”

“Mmmh…”

“I Love you”

“Yeah..”

“I Love you”

“Mmmh Yes..”

“No ! I Love you !” aku mendorong mukanya

“Yes, i know. Can we continue ?”

“A… answer me”

“What ?”

“I Love you, and your answer ?”

 

Dia terdiam dan kebingungan seperti biasa

“Okay.. here we go… kau mulai menghindari topik ini lagi”

“Jess.. Jessie.. does it matter ?”

“OF COURSE IT DOES !”

“Tapi… kan aku masih punya waktu satu bulan lagi.. Kenapa harus sekarang ?”

“Karena aku sudah tidak tahan Tiffany ! Kenapa kau selalu mengulur ? Kamu memang pintar mencari alasan. Bulan depan atau sekarang juga sama saja!”

“Astaga Jessie.. setelah yang kulakukan kamu masih perlu those 3 fucking stupid words ? Aku berhenti menemui semua wanita demimu, aku merawatmu ketika sakit, aku paling panik kalau terjadi sesuatu padamu, aku datang ke Jerman untukmu, aku bahkan menyiapkan surprise untukmu. Masih kurang ?”

“Tentu saja kurang ! Aku perlu kalimat itu untuk menyatakan perasaanmu yang sebenarnya. Itu penting bagiku”

“Tidak penting sama sekali ! Itu hanya kalimat di mulut”

“Kenapa sih kamu tidak mau mengatakannya ? Kau seperti benci dengan kaliamat I love you”

“KARENA .. Karena setiap aku melihat pasangan di keluargaku atau temanku mengucapkan ‘ooh I love you honey’ mereka tidak lama putus, atau selingkuh, atau bertengkar. Itu hanya kalimat menjijikan”

“Begitu ? Di keluarga dan temanku, saat mereka menjalin hubungan tanpa status, mereka cepat berpisah dan bertengkar”

Kami terdiam selama 5 menit mencoba meredakan amarah dan mengatur nafas

“Apa maumu Jessie ? Aku sudah melakukan semuanya untukmu. Tolong jangan egois”

“Egois ? Aku tidak egois ! Kamu yang egois ! Aku tanya, memangnya siapa yang pertama kali membuat rules aneh ? Kamu tentu saja ! Rules tidak memeluk, menginap, whatever “

“Aku melanggarnya semua untukmu ! Tidak cukup ?”

“Kau bahkan melarangku bersama Tyler”

“AKU TIDAK TAHUKALAU DIA GAY BAHKAN ! Berhenti mengataaknku egois ! Karena yang egois adalah kamu. Tidakah kau lihat pengorbananku ? Hubungan kita bukan sekadar FWB lagi”

“I know, dan aku butuh reponsemu.. aku tidak bisa menunggu sebulan lagi. Do you love me ?”

Tiffany terdiam dan mengigit bibirnya

“Goodbye Tiff” Aku mengambil blazer ku dan pergi dari apartemennya

***

Setelah keluar, hatiku hancur sekali dan aku segera menelpon Yuri

“Aku sudah melakukannya”

Flashback

“Jadi sisa sebulan lagi unnie” kata Krystal

‘Yup” aku hanya menyahut sambil makan es krim

“Jadi, bagaimana progres nya ?” tanya Yoona

“Hmm so far so good”

“Kau tidak kesal dengannya ?” kali ini Yuri yang bertanya

“Nope”

“Masih kuat menunggu 1 bulan ?”

“Worth it”

“No.. kamu bukan tipikal sabaran”

“Aku sabar Yul”

“Tidak”

“Sabar”

“Tidak, aku tahu dari matamu”

“Iya”

“Tidak”

“FINE ! AKU TIDAK SABAR !” tanganku memukul meja

“YEEESSS”

“AKU TIDAK SABAR ! AKU MAU MARAH TIAP AKU NYATAKAN CINTA DIA MALAH MENGHINDAR !”

“Huehehehe terus Sica ! Tumpahkan amarahmu”

“I LOVE ANGRY JESSICA !!! HUEHEHEHE” Krystal tertawa seperti orang gila

“Hmm kecilkan suaramu. Ini tempat umum” kata Yoona

“AKU BENCI SEKALIGUS CINTA DENGAN TIFFANY !”

“Hueheheh mau dengar tips dariku ? Aku Kwon Yul jago membaca perasaan para gadis. Aku tahu bagaimana aksi dan reaksi mereka”

“Yeah masalahnya kita bukan gadis lagi. Kita sudah tua”

“Diam Yoona ! Mau tau Sica ?”

Aku mengangguk dan menyimaknya

“Buat dia memohon-mohon kembali padamau. Buat dia membutuhkanmu”

“Caranya ?”

“Jauhi dia ! Bertengkar dengannya lalu diamkan beberapa hari. Dia akan menjadi gila dan akan mengikutimu seperti anjing kecil”

“Kau sudah gila Yul. Bagaimana kalau dia malah lega dan memang sengaja menjauhiku ?”

“Tentu saja tidak. Kita semua tau kan Tiffany orangnya seperti apa. Dia itu sudah terlalu banyak dibaikin. Biar dia yang mengejarmu”

“Aku setuju unnie” kata Krystal

“Aku juga” tambah Yoona

 

Flashback end

***

Aku pulang ke apartemen sendirian dengan perasaan cemas. Bagaimana jika Tiffany tidak mengikutiku seperti puppy ? Hanya aku sendiri yang berharap ?

Aku menyetel handphoneku di vibrate mode dan menyembunyikannya di lemari. Lebih baik aku tidak melihat handphone daripada sakit hati. Akhirnya aku merebahkan diri dan tertidur

***

Tiffany POV

Jessica pergi meniggalkanku begitu saja karena aku tidak mau bilang I love you. Jujur saja aku trauma melihat banyaknya perpisahan dan perceraian di sekitarku. Kata itu begitu berbahaya bagiku. Lagipula tidak mungkin dia pergi begitu saja. Pakaiannya masih ada di sini dan dia mencintaiku. Dia pasti akan kembali kan ?

Harum tubuhnya masih tercium di selimut dan ranjangku. Mungkin aku akan tidur sebentar. Tapi bagaimana kalau dia tidak kembali ?

***

Jessica POV

“yah unnie bangun ! wake up !” kata Krystal sambil menggoyangkan lenganku

“hmmm apaaa”

“Ayo makan malam. Yuri dan Syoo unnie udah dateng”

“Hnggh okay”

Aku melangkah ke lemari dan mengambil handphoneku. Tidak ada missed call SAMA SEKALI

“YAH YUL !!!” Aku berlari ke ruang tamu dan memukul lengannya

“ADUH ! APAAN SIH”

“KENAPA TIFFANY TIDAK MENELPONKU !”

“Mana aku tahu.. mungkin dia hanya seorang wanita brengsek”

Drrrrdtt drrrrttttt
 
Handphoneku tiba-tiba bergetar dan ternyata panggilan dari Tiffany

“Dia menelpoku Yul ! Bagaimana ini !”

“Jangan diangkat !”

“Kau sudah gila ya !” Baru saja aku mau menerimanya, Yuri mengambil handphoneku dan membawanya pergi “Hei kembalikan !!!”

Aku dan Yuri berlarian seperti anak kecil “YUL ! ITU TIFFANY !”

“KARENA TIFFANY, JANGAN DIANGKAT !”

Lalu panggilan mati dan kami berhenti. 5 detik kemudian Tiffany menelpon lagi

‘Yul please ! “

“Tidak Sica, kalau kau angkat malah menunjukkan kamu sangat murah dan dia bisa mendapatkanmu kembali kapanpun dia mau. Tidak ! Tunjukan kalau kamu punya harga diri”

“Noooo panggilannya kembali berhenti”

“Aiisssh Syoo, Krys ! Seret dia !”

“Siap !” badanku diseret oleh Krystal dan Sooyoung keluar apartement dengan tidak berperikemanusiaan

***

Tiffany POV

Aku mencoba menghubungi Jessie untuk mengajaknya makan malam tapi dia tidak mengangkat teleponku. Apakah dia benar-benar membenciku ? aku merebahkan tubuhku di sofa. Seketika nafsu makanku hilang. Di pikiranku hanya ada dia

Kulirik buku yang ada di meja, sepertinya bukunya tertinggal di sini. Buku yang baru dia beli tadi siang. Aaakk kenapa semua isi di apartemenku malah membuatku semakin galau sih ? Menyebalkan. Aku benar-benar wanita menyebalkan !

Aku mencoba menghubungi Yuri dan dia juga tidak menjawab. Apakah mereka sedang bersama ?  Wajahku memanas dan aku sedikit merasa cemburu, tapi cepat-cepat kusingkirkan pikiran itu. Kenapa aku jadi possesive seperti ini ? Aku penuh dengan aura negatif saat ini

***

Malam tiba dan aku masih berusaha menelponnya untuk mengucapkan selamat malam tapi dia tidak mengangkatnya. Akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan voice note

“Yah, aku tidak tahu semarah apa dirimu. Tapi aku cuma mau mengucapkan selamat malam. Good night, sweet dream”

Aku mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Aku merindukan kehadiran dia yang tidur di sebelahku. Aku ingin memeluknya sepanjang malam. Tanganku meraba sisi dia biasa tidur dan mau mencoba menghirup harum tubuhnya di tempat tidur.

Aku sudah gila

***

Jessica POV

Tiffany meninggalkan voice note yang menurutku sangat manis. Sejujurnya aku benci seperti ini. Aku merindukannya. Aku ingin dipeluk olehnya. Malam ini aku tidur di sisi biasa tidur untuk merasakan kehadirannya di sini

***

Tiffany POV

Sinar matahari menembus jendelaku. Hari ini aku memutuskan untuk libur dan bersantai

“Hnggh Morning Jessie” shit aku lupa dia tidak di sini. Tanganku mencari tubuhnya di ranjang.

Aku melangkah ke kamar mandi dan saat aku menyikat gigiku, dia masih meninggalkan sikat giginya yang berwarna merah di gelas yang sama denganku. Bahkan aku masih bisa membayangkan dirinya yang sedang mandi di shower dan mengajakku untuk bergabung dengannya

Hatiku terasa kosong. Apakah aku benar-benar mencintainya ? Aku benci jauh darinya dan hatiku terasa sedikit sakit. Kenapa sih kalimat itu begitu penting ?

Aku memutuskan menonton film siang ini. Aku mencoba mengalihkan pikiranku dari Jessica Jung dengan menonton Handmaiden

***

Di pertengahan flim,Kim Min Hee dan Kim Tae Ri melakukan sex scene yang sangat berani. Aku tidak mempercayai mataku. Film ini benar-benar berani. Well, tiba-tiba terlintas ide nakal di pikiranku. Aku akan melakukan sexted dengan Jessica Jung

***

Jessica POV

Siang ini setelah shopping dengan Sunny, Yoona, Yuri dan Krystal, kami memutuskan makan siang di sebuah kafe. Semua berjalan menyenangkan sampai chat Tiffany yang mengejutkan masuk

“UHUK !” aku tersedak minumanku

“Kamu tidak apa-apa ?” kata Yul

“Tidak kok. Tenang saja. Aku tersedak ludahku sendiri hahahaha”

“Hahaha” tawa mereka

Aku kembali melihat chat dari Tiffany. Dia memfoto salah satu adegan sex di handmaiden yang dilakukan secara frontal. Oh my GOD ! Yang mengagetkanku adalah isi chatnya untukku

Aku sedang nonton Handmaiden. Sayang sekali kita tidak bisa menontonnya bersama. Padahal bisa kau bayangkan jika aku menontonnya denganmu. Bisa-bisa aku lepas kontrol. Coba bayangkan jika aku seorang lady dan kau maid milikku.

Mungkin setiap malam aku akan membawamu ke kamarku, membuka semua helai pakaian di tubuhmu dan menciumu dengan nafsu. Merasakan nafasmu di telingaku. Tanganku tidak akan tinggal diam. Mereka akan menggerayangi tubuhmu dan menyentuhmu di tempat yang bisa membuatmu gila.

Ciumanmu akan turun ke dadamu dan akan kugigit sampai merah karena kamu adalah milkku dan hanya aku yang tau sisi liarmu. Lidahku menari di seluruh bagian tubuhmu dan aku tau kau akan mengeluarkan dolphin scream yang menggemaskan

Lalu…

“ Sica !”

“……….”

“YAH SICA !” tegur Sunny

“Ha ? Ya ada apa ya ?” aku langsung panik

“Kau baca apa ?”

“Ti.. tidak ini.. President Korea diturunkan, crazy, huh ?”

“Serius apa yang kamu baca, unnie ? daritadi kita bicara apa kamu tidak menyimak”

“Me.. menyimak”

“Tidak, matamu konsentrasi di handphone dan wajahmu merah. Itu Tiffany ya ?”

“Bu.. bukan ! Bukan !”

“Bohong ! Kemarikan handphonemu”

“Tidak mau !”

“Sini !” Yoona mencoba merebutnya

“Tidak !”

“Sini !”

“Tidak !” aku untungnya mengunci handphoneku sebelum berhasil direbut Yuri

“Terkunci” katanya sambil melihat handphoneku. Matanya langsung melotot ke arahku “Kemarikan jarimu”

“TIDAK”

“SINI”

“TIDAK”

“Krys, Yoona, kemarikan jarinya”

“AAAAAA” Yoona dan Krystal menahan tubuhku dan Sunny jempolku. Yuri dengan sigap menempelkan jempolku di tombol home.

Mereka semua membaca semua aib yang tertera di layar handphoneku dengan seksama. Seketika ekspresi wajah mereka sama, yaitu jijik

“EWWWHHH UNNIE” Krystal langsung minum air putih sebanyak mungkin

“Oh.My.God. Kalian benar-benar menjijkan. Bahkan kalian sepagi ini sexted” kata Sunny

“Yeah, eeewwhh. Sini biar aku balas” Yuri mulai mengetik

“Jangan bodoh ! Sini kembalikan !”

“Sudah unnie, diam saja hehehe” Yoona dan Yuri tertawa-tawa membalas chat Tiffany

“Oh God….” aku menarik rambutku dan menunduk di meja

***

Tiffany POV  

HA ! Dia membalasku. Apa isinya ya ?

“Ewh kau menjijikan. Kau sangat menyedihkan. Sudah tidak punya perasaan, mesum, seenak hati, kau kira lucu mengirimkanku pesan seperti itu ? I hate you !”

WHAT ? Aku tidak percaya ini. Aku membaca berulang kali dan hatiku sangat sedih, sakit tapi daripada itu semua.. AKU SHOCK !

Jessie tidak pernah berkata sejahat itu padaku. Apalagi setelah dia berulang kali mengatakan cinta padaku dan sekarang dia berkata sejahat itu ?

Setelah film selesai, aku kembali ke kamar dan menyelimuti semua tubuhku. Aku trauma dan terlalu takut untuk menghubunginya, kuputuskan untuk merenung semua sikapku padanya

Jam 19.00

FUCK IT ! Aku terlalu lama merenung ! Aku harus menemuinya ! Aku tidak bisa seperti ini terus, terlalu menyedihkan. Seorang Tiffany Hwang tidak akan galau oleh wanita

Aku berganti baju dan memacu mobilku secepat mungkin ke apartemennya. Aku mau bertemu dengannya !

Baru saja aku turun dari mobil, tiba-tiba range rover miliknya datang. Entah kenapa aku malah kembali bersembunyi di mobilku. Dia turun dengan Yoona, Yuri, Sunny dan Krystal. Mereka berjalan masuk ke apartemennya sambil tertawa. Jelas sekali dia bahagia dan tidak ada kemuraman di wajahnya. Kenapa dia tidak menderita seperti diriku, sih ?

Waktu bereka berjalan, tangan Yuri merangkul pundak Jessica dan wajah mereka begitu dekat. Mereka terlihat bahagia dan seperti sepasang kekasih. Dengan hati yang sedih dan kecewa aku pulang tanpa berbicara dengannya.

Kenapa Kwon Yuri melakukan itu ? Aku kira kita sudah sepakat tentang Jessica. Kenapa dia begitu jahat padaku ?

***

“Okay, ada apa kau menghubungiku, kau tau chat mu yang bilang ‘WHERE ARE YOU ! COME HERE ASAP’ sudah membuatku panik ?”

“Maaf Taeyeon tapi ini penting dan aku harus mengatakannya kepada seseorang karena aku tidak bisa memedamnya sendirian”

“Okay, katakan dengan cepat karena manager oppa stand by di bawah dan aku harus perform di—“

“I Love Jessica Jung”

“HA ?!”

“I Love her, I love Jessica Jung and I’m gonna win her back”

Three Stupid Words : Chapter 8

Kami sudah 2 minggu tidak bertemu. Tiffany yang baru datang langsung menarikku ke kamar. Dia menciumku dengan nafsu dan membuka semua pakaianku. Tanganku tidak diam dan membuka semua majunya

“Mmh miss you”

“Miss you too”

Tiffany mulai mencium leher dan bahuku dan sesekali mengigitnya. Dia ingin sekali meninggalkan bekas di sana

“Je.. Jessie…about Valentine’s day… How about..”

“Ssshhhh.. talk later, okay ?”

“Ooh okay”

Ciumannya terus turun hingga ke dadaku. Aku mendesah dan menjambak rambutnya

“Unnie ?”

Aku langsung membuka mata saat mendengar suaraku dan kulihat Krystal berdiri di depan pintu kamarku

“HUAAAAA” refleks aku mendorong Tiffany hingga dia terjatuh

“Oh my God.. oh shit..” Krystal menutup matanya “Aku tidak lihat apa-apa. Aku tidak lihat apa-apa. My EYES !”

Tiffany dan aku memakai baju dengan terburu-buru. Aku segera memakai bathrobe dan Tiffany berhasil memakai dress nya dengan sukses

“Unnie.. miss you. Kok kamu gendutan” Krystal berjalan dengan mata tertutup dan memeluk Tiffany

“hmm aku di sini. Kamu boleh buka matamu”

“Oh ? hai unnie.. miss you” katanya sambil memelukku

“Aku gendutan ?” tanya Tiffany

***

Kami bertiga duduk di ruang tamu dan Krystal mencoba menenangkan diri dengan teh hangat

“Jadi… you’re dating ?”

“Nope. We’re just friends” kataku

“Friends ? Friends with benefit ?”

“Sorta..”

“Like Justin Timberlake and Mila Kunis ? in that movie ?”

“Yep”

“Hoo… dunia orang dewasa sulit sekali”

“I.. I should go” Tiffany yang daritadi diam segera beranjak dari tempatnya

“Tunggu unnie.. gimana kalau kita makan malam bareng ?”

“Hmm sepertinya tidak. Kamu perlu recover dari pemandangan tadi”

“Ohh tidak kok. Aku tidak lihat apapun” kata Krystal penuh denial

***

Setelah makan malam aku mengantar Tiffany keluar apartemen

“jadi..” kata kami secara bersamaan

“Kamu dulu Jessie..”

“Tidak kamu dulu Tiff..”

“Okay, jadi Valentine’s day, kamu ada acara ?”

“Tidak. Aku akan tidur di kamarku sambil makan coklat dan nonton rom-com”

“Great, jadi apa yang mau kamu bicarakan ?”

“Tidak.. Krystal sudah mengetahui hubungan kita.. jadi tidak apa-apa kan ?”

“Of course. Memangnya kamu punya alat pembuat hilang ingatan seperti di men in black ?”

“Hahaha okay” aku mencium bibirnya dan pintu apartemen terbuka

“Oh hai Unnie.. maaf mengganggu, aku cuma mau bilang hati-hati di jalan”

“Okay Krys. Kamu tidak mengganggu. Sama.Sekali ” jawab Tiffany dengan wajah terganggu dan sedikit kesal

***

Begitu aku kembali ke dalam, Krystal menghujaniku dengan pertanyaan

“So… you’re in love with her, aren’t you ?”

“No Krys” jawabku sambil mencuci piring

“You’re in love with her”

“No”

“Yes. I can see it from your stare”

“No Krys. I am not in love with her”

“Yes you are. I mean.. come on. I’m your sister. I won’t tell anybody”

“really?”

“Yep”

“No. You can’t and never ever keep a secret. You always tell other people about our secret. So, yeah, NOPE ”

“You are really in love with her. Totally” katanya dengan tertawa kecil

Aku  mengajaknya duduk di sofa untuk bicara

“Yes I’m in love with her. But she doesn’t love me. She’s in love with herself”

“Sudah ngomong ?”

“Sudah dan dia tidak merespon apa-apa”

“Dan kalian tetap melakukan… itu ?”

“Iya. Kita tetap melakukannya”

“EWWWHHHH”

“Pelankan suaramu”

“EWWHHHH unnie.. EWWHHH kau wanita yang tegar, kuat penganut feminism dan kau biarkan dirimu diinjak oleh … Tiffany Hwang ?”

“Krys…”

“Tapi yah, itu keputusanmu. Aku cuma bilang good luck dan jika dia menyakitimu. Aku akan menghancurkan porsche mewahnya, mencukur habis rambut indahnya dan mematahkan hidungnya yang bagus. Damn kenapa aku malah memujinya”

***

14 February 2016

19.00

Handphone ku berdering dan itu dari Tiffany

“Halo ?”

“Where are you ?”

“Airport ?”

“Ha ? Ibumu datang ?”

“Nope, my friends”

“Siapa dia ?”

“Oh dia datang, nanti kutelpon lagi”

21.00

Teleponku kembali berbunyi dan aku di tengah-tengah dance floor di sebuah club. Aku terpaksa menyngkir untuk menerimanya

“Halo, kenapa ?”

“Kamu tidak di rumah ? Kenapa ?”

“Karena aku sedang party ! Kamu tidak dengar suaranya ?”

“Iya maksudku kamu tidak pulang ?”

“Tidak kita sedang party menyambut kedatangan temanku”

“Siapa dia ? Kenapa begitu penting ?”

“Tyler Kwon ! Temanku dan Hyoyeon. Malam ini aku akan menginap di rumah Hyo”

“Kenapa ? Bukannya kamu akan pulang, makan coklat dan menonton rom-com ?”

“Tidak aku aku menginap di rumah Hyo. Kita akan party habis-habisan lalu lanjut ngobrol di rumah Hyo sampai pagi”

“Jessie… I think that’s a bad idea. Pulanglah”

“No… Tyler sedang datang. Dia jarang ke Seoul”

“I hate that guy”

“Trus kenapa ?”

“Terus kenapa katamu ? Aku tidak suka kamu bersamanya apalagi sampai party di hari ini. Ini valentine’s day Jessie”

“Ya memang terus kenapa ? Ini bukan urusanmu aku bersama siapa. Memang kenapa ? Kamu cemburu ?”

“Aku…”

“Dengar Tiff, kita bahkan tidak pacaran dan aku bahkan tidak tahu hubungan kita ini apa. Dengan siapapun aku party, bukan urusanmu !” aku langsung memutuskan teleponnya

Aku akui, aku sedikit mabuk karena minum beberapa gelas dan semua kata meluncur dari mulutku. Whatever Tiffany aneh sekali

Tiffany POV

Aku duduk di ranjangnya sendiri. Sudah 2 jam aku menunggunya. Padahal aku sudah menabur kelopak mawar di ranjangnya dan membeli wine kesukaannya. Aku bahkan menyiapkan setidaknya 7  lilin beraroma manis di seluruh kamar. Kupikir aku akan memberinya surpirse di hari Valentine dan membuat suasana seromantis mungkin

Semuanya menjadi sia-sia. Aku sudah menyiapkan malam romantis khusus untuknya dan saat ini dia bersama orang lain. Seperti dicampakkan di hari Valentine. Ini sangat menyakitkan

Aku membereskan mawar yang kutabur dan memasukkannya ke kantong plastik. Aku juga meniup untuk mematikan lilin dan membereskannya

“Unnie ?” tiba-tiba pintu kamar terbuka

“Oh hai Krys… aku lupa kamu di sini” matanya sebelah terbuka. Mungkin dia sleep-walking

“Unnie.. ngapain kamu di sini..”

“Ayo kembali tidur” aku mengantarnya ke kamar dan pulang

***

08.00

Aku kembali ke apartemen Jessie untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal

“Krys..”

“Tiff-uniie, ayo masuk. Sedang apa pagi-pagi seperti ini” dia sepertinya tidak mengingat kejadian semalam

“Mana Jessie ?”

“Ooh dia belum pulang dari semalam”

“Good” aku ke kamarnya dan mengambil lilin dan wine yang tertinggal.

“Itu darimu ?”

“I… Iya”

Krystal terlihat memikirkan sesuatu, dia terus melihatku dengan tatapan aneh

“Kamu kenapa ?”

“Tidak… hanya saja….” dia terlihat berpikir keras

“Hmm ?”

“Unnie.. YA AMPUN SEMALAM KAMU DI SINI !” matanya berbinar seperti baru menemukan sesuatu. Dia sepertinya mendapatkan kembali ingatannya

“Krystal…”

“YA AMPUN ! UNNIE MAU MEMBERIKAN KEJUTAN VALENTINE YA ?”

“Krys itu…”

“Oh God… you’re in love with Jessie ! She must be very happy !”

“Krystal no.. listen !”

“Aku akan menelponnya untuk segera pulang” aku mengikutnya ke ruang tamu dan merebut handphonenya

“Kenapa unnie  ? Lihat ! Scented candle, wine dan tadi ada kelopak mawar di lantai ? Kamu mencintai Jessica kan ? Wow.. aku tahu kalian akan sangat cocok !”

“Tidak Krys… aku …”

“Aku apa ?”

“Memang aku mau memberikan kejutan untuknya, tapi hubungan kami tidak seperti itu. Lagipula, acaranya juga gagal. Dia memilih bersama Tyler fucking Kwon itu”

“Kamu cemburu..”

“Aku tidak cemburu ! aku tidak cemburu !”

“Unnie.. jangan denial. Kamu mencintainya kan ? Kamu marah tentang Tyler, kamu memberikan kejutan super romantis. Tidak mungkin kalau tidak ada perasaan cinta sedikit pun”

“No Krystal. I’m not in love with her”

Jessica sudah pulang dan kaget melihatku

“Woah.. ngapain kamu pagi begini ?”

“Whatever “ aku segera pergi dari hadapannya. Aku tidak mau mendengar apapun darinya

***

Jessica POV

“Aneh sekali sih dia. Ngapain dia pagi-pagi ke sini”

“Unnie… dia..”

“Nanti saja ya, aku mau mandi lalu tidur. Tiffany aneh sekali”

Setelah selesai mandi, aku duduk untuk mengeringkan rambut namun aku menyadari sesuatu. Kenapa ada scented candle di mejaku ? Ada juga 1 lagi di meja di samping tempat tidurku dan itu wine ???

“Krystal”

“Yes unnie ?”

“Kamu membelikan scented candle dan wine untukku ?”

Krystal melangkah ke kamarku dan melihatku dengan iba

“Kenapa matamu ?”

“Tiffany unnie yang menaruhnya semalam”

“Ha ? Tiffany ? Ngapain dia ?”

“Semalam dia.. dia berniat memberikan kejutan romantis untukmu. Dia menebar kelopak mawar di ranjang, menyalakan lilin dan membelikanmu wine. Tapi kamu tidak pulang.. jadi yah.. dia pulang dengan patah hati”

“HAAAAAAA”

“Yes ! You’re the bad girl now !”

“Oh… OH MY GOD !”

“kamu harus minta maaf ! Aku sadar dia di sini waktu aku… mungkin aku sleep walking terus dia mengantarku kembali ke kamar”

“Oh noooo tidaaakk. Semalam aku memarahinya karena menyurhku pulang. Ternyata dia merencanakan ini ? Tidaaakkk !!”

Aku segera mengambil handphone dan menelponnya tapi tidak ada jawaban

“Krys… Dia tidak menjawab teleponku”

“Unnie.. tenang dulu.. mungkin dia sedang di jalan”

“Iya kamu benar. Mungkin nanti aku telepon lagi”

***

3 jam kemudian aku menelponnya lagi. Tapi tidak ada jawaban. Aku mulai panik. Bagaimana kalau Tiffany tidak mau bicara denganku lagi ? Aku benar-benar menyebalkan semalam

“Sudah diangkat ?”

“Belummmm… Oh tidak, aku benar-benar brengsek”

“Tidak unnie. Kalian hanya salah paham. Kamu kan juga tidak tahu kalau dia di sini”

“iya, apalagi dia bukan tipe seperti itu”

“Dan menurutku, kalau dia seperti itu, mungkin dia juga mencintaimu”

“Sudah jangan menghiburku”

***

3 jam kemudian

“Krystaaallll dia tidak mengangkat teleponku ! “

“Unnie tenang dulu ! Mungkin dia… I don’t know, sedang tidur ? Atau lagi membuat musik ?”

“Tapi masa seharian ? 6 jam dia tidak buka handphone sama sekali ? Tidak mungkin !”

“Hmm dia kan juga tidak update snapchat atau instagram ? Jadi tenang saja, sih”

***

3 jam kemudian

“Aku sudah tidak tahan ! sudah 9 jam dia tidak mebalas telepon dan chat ku. Aku akan ke apartemennya. Aku akan ke sana lalu menamparnya !”

“Menampar pakai bibir ?” ejek Krystal

“Pakai kamus bahasa Inggris kalau perlu”

***

Aku segera menyetir ke apartemennya. Aku mengetoknya dan tidak ada yang membuka. Aku mencobanya sekali lagi namun tidak ada reaksi. Mungkin dia pergi sebentar. Aku memutuskan untuk menunggunya di lobby bawah

Sekarang jam 5 sore. Mungkin dia pergi membeli makan malam

***

Tiffany POV

Setelah dari apartemen Jessie, aku memutuskan untuk pulang dan tidur. Kulihat missed call di handphone ku darinya. Fuck it ! Aku kesal dengannya. Nanti saja kutelpon lagi. Aku menyetel handphoneku dengan mode silent jadi tidak ada yang menganggu tidurku

Baru saja terasa memejamkan mata, aku terbangun dan…. JAM 12 SIANG ?

AKU ADA JANJI DENGAN PRODUSER JAM 11 !

Dengan cepat aku menyambar tasku dan berlari ke mobil. OH SHIT ! aku nanti dibilang penyanyi tidak profesional

***

Sesampai aku di studio, aku melupakan makan siangku dan langsung mengerjakan proyek album baruku dengan tim produser lain. Tentu saja aku memiliki andil besar di lyric dan compose. Sekali kita bekerja, kita seperti masuk ke dalam dimensi lain dan tidak peduli dengan dunia luar.

Aku melupakan semua masalahku dan fokus bekerja. Sejauh ini rekaman dan proyek album berjalan dengan baik. Aku beruntung mendapatkan tim yang mau mendengar semua pendapatku

“Hei Guys, sepertinya aku mau balik dulu” kata salah satu anggota timku

“Memang sudah jam berapa ini ?”

“Jam 8”

“HA ? Ga kerasa ya”

“Memang kamu ga lapar Fany-ah ?”

“La.. lapar juga sih. Ya sudah kita makan saja yuk trus pulang”

Kita semua akhirnya beres-beres dan aku baru sadar seharian ini belum mengecek handphone ku. Saat kulihat WHAT THE 60 MISSED CALL DARI JESSICA ? Kenapa dia ?

Kulihat dia mengirimkan voice note. Aku segera menyingkir dan mendengarkannya

“YAH TIFFANY ! I Hate you A LOT ! A LOT ! Aku mencarimu dan entah dimana dirimu. FUCK YOU ! Huaaa aku minta maaafff.. aku salah pahaaammm. Kalau kamu mendengar ini, cari aku di.. dii..Griffin Bar.. you know.. byeee”

Okay, fix dia mabuk

“Hei guys.. sepertinya aku tidak ikut makan. Aku ada urusan.. okay ?”

“Yaaahh Fany-ah”

***

Aku mengebut secepatnya dan sampai di bar itu. Salah satu Bartender bertemu pandangan denganku dan menunjuk ke arah belakang. Sepertinya dia tahu maksudku

“Dia minum banyak sekali dan aku membawanya ke belakang. Nanti image idol kalian rusak”

“Terima kasih banyak, lalu ini untukmu” aku menyodorkan 10,000 won kepadanya sebagai uang tutup mulut

“Thanks, lalu kunci mobilnya”

“Oh ada di sini. Mau kauantarkan ke apartemennya ?”

“I.. Iya tapi..”

“Tenang saja aku tidak akan membocorkannya..” ah aku tahu tatapan itu. Aku berikan kembali 10.000 won dan kutuliskan alamat lengkapnya

“Jangan sampai baret atau apa pun”

“Siap !” Mari kubantu dia ke mobilmu

***

Aku memapahnya hingga ke apartemenku. God Jessie.. kau bertambah gendut ya ? Kenapa berat sekali

“Hmm Fany-ah hahahah”

“Ya HA HA HA. Kamu ini menyebalkan. Aku kehilangan 20.000 won karenamu”

“Kau menyebalkan ! Aku.. aku jadi merasa bersalah” dia mulai menangis

“Ja.. jangan nangis. Sudahlah..”

“Kamu juga salah ! Kenapa buat surprise ga kasih tau aku !”

“Ha ? Kalau aku kasih tau namanya bukan surprise !”

Tangisannya makin menjadi dan kencang. Aku hanya bisa menghela nafas

“Jadi.. ayo sini” aku membuka semua bajunya

“Iiihh kenapa… kau mau mengambil keuntungan ya” dia mencoba melawan tapi badannya limbung

“Tentu saja tidak bodoh !”

Akhirnya semua bajunya kulepas. Dia melihatku dengan tatapan nafsu. Dia meraih tanganku dan menghisap jari telunjuk dan tengahku dengan dalam

“Mmh Tiffany, I’ll be a good girl for you” giginya menggigit kecil jariku

“Hmmm, aku ikut aku” aku membantunya berjalan menuju bathtub dan menyalakan air hangat

“Hmm bathtub sex ?”

“No.. no sex tonight” aku membilas wajahnya

“AKKK DINGIN !”

“Tidak usah rewel, ini hangat !”

***

Aku memakaikannya baju yang dia tinggalkan di lemariku dan menidurkannya di ranjang. Tangannya gemetar karena kedinginan

“Kenapa tanganmu ? Kedinginan ?”

“hmmm.. aku yang lemas langsung dimandikan dasar bodoh”

“maaf” aku mengecup keningnya dan memeluknya sampai tertidur

***

Jessica POV

Aku terbangun dengan kepala pusing. Pandanganku berputar. Aku tentu masih ingat memori semalam. Mabuk, dibawa Tiffany, dimandikan dan tertidur di sini

“Oh fuck” aku memegang kepalaku yang masih sakit dan melangkah ke dapur. Kulihat Tiffany sedang membuat roti bakar dan teh

“hei sudah bangun ?”

“Nggghh”

“Ini minumlah dulu teh nya”

Tiffany mulai menyiapkan sarapanku lengkap dengan senyum hangatnya

“Tiff..””Jessie..”

“Kamu dulu Tiff”

“Tidak kamu duluan”

“Okay.. aku… aku mau minta maaf kemarin telah menyusahkanmu. Kamu begitu baik dan maaf aku tidak tahu soal valentine itu. Aku malah pergi dengan orang lain dan yah mengacaukan rencanamu. Aku menelponmu untuk minta maaf dan.. aku senang kamu menyiapkan semuanya untukku. Aku tidak sangka kamu tipikal orang romantis”

Dia tersenyum lebar dan tertawa mendengar penjelasanku

“Bahkan kamu tahu aroma lilin kesukaanku”

“True Grace Moroccan Rose. Aku sudah hapal Jessie”

“Ngomong-ngomong gimana caranya kamu masuk ke apartemenku ?”

“Hmm sebenarnya… jangan marah ! Aku menduplikat kartu masuknya dan aku tahu password security pintumu jadi aku bisa masuk seenaknya”

“STALKER !!!!”

Dia tertawa puas melihatku kesal. Kami terdiam sebentar

“Kini giliranku, aku… mulai berpikir kalau kamu mau bersamaku, please berhenti minum”

“Tapi..”

“Kecuali ada seseorang bersamamu. Atau aku, aku memiliki toleransi alkohol yang tinggi”

“Okay.. aku janji..”

“Lalu… berhenti bergaul dengan Tyler Kwon itu”

“Ha ? Kenapa ? Shareholder di perusahaanku”

“I hate that guy”

“Why ?”

“No reason. Aku hanya tidak suka”

“Ha ? Kamu cemburu ?”

“Cemburu ? Jangan bodoh. Tentu saja tidak. Aku benci pria itu. Aku tidak suka jika dia berada di dekatmu”

“Ya kenapa ? Kenapa kamu benci ? Memang dia apain kamu ?”

“Aku kesal kalau dengar nama dia apalagi fakta kalau kamu menghabiskan valentine dengannya. Aku marah ! Rasanya diriku dikuasai amarah” wajahnya merah padam dan sangat terlihat kalau dia ingin mengamuk

“Kalau kau kesal tanpa alasan saat aku menghabiskan valentine bersamanya, jelas itu cemburu”

“Jes…”

“Tidak usah disangkal. Kamu mencintaku Tiffany ?”

Kali ini dia terlihat salah tingkah. Tangannya mengusap belakang leher

“Itu…”

“Baguslah kalau kamu cemburu. Kemajuan besar untuku hahaha”

“Aku. Tidak.Cemburu. Aku hanya kesal”

“Cemburu”

“Tidak !”

“Yeah.. whatever. Aku pulang dulu deh. Mau istirahat”

“Di sini saja. Aku bisa melayanimu hehe”

“Tidak.. nanti Krystal khawatir”

“Ooh oke. Mau kuantar ?”

“Tidak usah Tyler menuju ke sini dia sekalian mau main ke apartemenku”

“APA ?”

“Tidak usah teriak Tiff.. aku masih hangover” aku memegang kepalaku yang berdenyut

“KITA BARU BERDEBAT SOAL TYLER DAN DIA KE SINI ?”

“Aduh kecilkan suaramu ! Kepalaku pusing ! Iya dia ke sini ! Sudah di lobby !”

Tiffany terlihat terpaksa saat mengantarku. Saat dia melihat Tyler, mereka saling tersenyum dan melambaikan tangan satu sama lain. Tiffany jago sekali berpura-pura

“Hai Tyler, dia masih hangover”

“I know. Aku akan menjaganya”

“Okay, bye”

“Bye”

Tiffany melihatku pergi seperti anjing yang dicampakkan tuannya. Cute sekali

***

Di perjalanan handphone ku bergetar dan ternyata berisi pesan dari Tiffany

“You’re right, I’m jealous”

Aku tertawa kecil dan membalasnya

Tiffany POV

“Don’t worry, he’s gay”

“WHAT ?! SEROUSLY ?!!!”

Three Stupid Words : Chapter 7

Aku terbangun jam 8 pagi karena alarmku. Sambil mengumpulkan kesadaran, aku meraba-raba sisi sebelahku dan Tiffany tidak ada. Aku menghela nafasku, mungkin dia sudah pulang ke Korea karena semalam bertengkar denganku. Semudah itu dia meninggalkanku

Tanpa sadar air mataku menetes. Aku menyesal kemarin malam mendesaknya, seandainya kemarin aku diam saja, dia pasti masih ada di sini dan memelukku. Hatiku sedikit terasa nyeri

“Morning” kata suara yang aku inginkan “Hai, breakfast in bed ?” dia meletakkan nampan yang di atasnya terdapat french toast, coffee dan orange juice. Tiffany memakai kemeja oversized dengan celana pendek. Rambutnya yang terlihat acak-acakan membuatnya sexy

“A.. aku kira kamu pergi..”

“Kamu menangis ?”

“Tidak ! Mataku perih saja karena kurang tidur” dia tertawa mendengar jawabanku

“tentu saja aku tidak akan pergi Princess. Aku sudah jauh-jauh ke sini, tentu saja kita akan menghabiskan Natal bersama. Jangan murung ya” dia mengelus wajahku

“Aku minta maaf atas semalam, tolong dilupakan ya”

“It’s okay. Dimakan ya ini”

“Ini kamu yang masak ?”

“Jangan bodoh Jung, tentu saja aku pesan di room service” mendengar hal itu, aku langsung tertawa. Aku bisa melihat dia tersenyum lembut dan menatapku dengan dalam. Aku langsung menyantap sarapannya dan dia hanya minum orange juice sambil terus melihatku

“Kamu ga makan ?”

“tadi sudah saat Princess masih tidur”

“Harusnya bangunkan aku, jadi kita bisa sarapan bareng di bawah”

“Tidak apa. Kamu terlihat lelah dan tidurmu sangat nyenyak. Aku jadi tidak tega. Pasti pelayananku semalam memuaskan, ya ? Sampai-sampai kamu tidurnya seperti itu”

“Enak saja. Jangan geer ya Hwang ! Aku lelah karena perjalanan jauh dan photoshoot bukan karenamu”

“Yakin ?” dia mengedipkan matanya dan mengigit bibirnya

“Hmm kamu ada andil sih”

“TUH KAN ! hahaha” pipiku memanas dan aku kembali makan sambil neghiraukannya. Setelah tawanya berhenti dia menepuk kepalaku

“Ini yang aku inginkan”

“Ha ?”

“Ini pemandangan yang aku mau setiap pagi. Kamu bangun tidak ditutupi benang sehelai pun, lalu rambutmu yang acakan-acakan dan morning face mu yang imut. Aku mau ini semua setiap pagi. Aku mau setiap bangun, ada kamu yang berada di selimut yang sama denganku. Aku mau membawakan sarapan dan menggodamu setiap pagi”

“Well.. kamu sudah sering mendapatkannya”

“Iya benar, tapi aku selalu ingin itu. Jessie, kamu sempurna sekali. Walaupun tanpa make up dan hair stylist, kamu sempurna. Yah ditunjang dengan keadaaan kamu tidak pakai apa pun sih”

“Mesum !” aku memukulnya dengan bantal

“Aku… aku mau melihatmu setiap pagi” wajahnya kali ini sangat serius

“tentu saja bisa, aku bisa memberikannya setiap pagi”

“Good” dia menciumku dengan lembut, akhirnya aku mendapatkan morning kiss

“Mmm aku ada photoshoot, bagaimana kalau habis itu kita jalan ? Jam 2 siang aku akan kembali ke sini dan menjemputmu”

“Oke. Kita akan menikmati Berlin bersama”

Aku kembali mengecup bibirnya dan berlari kecil ke kamar mandi.

***

“it’s a warp !”

Setelah photoshoot kami semua berkumpul untuk finishing. “listen guys. I really appreciate your work and you guys have done a brilliant job and frankly, I’ll miss you” kami semua tertawa

“Well, get our of here ! Really I have enough with you !” kami kembali tertawa dan membereskan semuanya. Aku minta izin pergi

Baru saja aku hendak pergi, Tiffany text me

Jalan 5 langkah ke depan lalu belok ke gang kiri 10 langkah

Aku mengikutinya dan there she is, berdiri di sana dengan coat hitam seperti Paddington bear. Tangannya memegang coklat hangat dan kue

“karena kamu sudah makan siang dan supaya kamu tetap hangat, ini kubawakan hot chocolate khas Jerman” aku mengambil dan meminumnya

“Alkohol ? Ini ada alkoholnya ?”

“Itu Lumumba”

“Ha ?”

“Hot chocolate with rum. And this is a cupcake from Cafe Einstein”

“Mmm Yummy”

“I promise you. I’ll make a wonderful date”

“Yeah… so this is a date ?”

“Yes it is ! Let’s go !”

***

Tiffany mengajakku ke semi abandoned garage dan banyak orang berkumpul

“Ini Piano Salon Christophori, aku sudah memesan tiketnya”

Kami masuk dan duduk di kursi kosong. Lalu seorang pria tua duduk di panggung dan mulai memainkan pianonya. Semua orang terdiam termasuk diriku. Aku sudah sering menonton konser klasik tapi ini pengalaman baru yang unik. Bukannya di sebuah gedung bagus, malah di sebuah warehouse tua dengan design klasik dikelilingi banyak model piano. Aku heran bagaimana Tiffany bisa mengetahuinya.

“this is fun, right ?”bisiknya

“Yes of course”

Setelah selesai, kami kembali berjalan

“Jadi kita mau kemana ?”

“Museum ?”

“Okay, kota di Eropa kan memang terkenal karena museumnya yang bagus”

“Yep, dan sepertinya kamu melupakan sesuatu”

“Apa itu ?” dia mengeluarkan sepasang sarung tangan dari kantung coatnya. Dia memasangkan keduanya di tanganku

“Nah sekarang lebih hangat”

“Terima kasih, kamu perhatian sekali”

“let’s go to another place” tangannya menggandeng erat tanganku

***

“Like seriously ?”

“Err Sorry, sepertinya kamu tidak menikmatinya” Tiffany menggaruk kepalanya

“tentu saja ! Kamu membawaku ke museum holocaust. Bagaimana kita bisa bahagia dan tertawa di museum pembantaian orang Yahudi ?”

“Ha.. habisnya topography of terror semacam terkenal di internet”

Dan inilah kita berada di museum perang dunia kedua yang menampilkan foto-foto penyiksaan oleh tentara Jerman di WW II

“Ayo kita keluar, aku tidak mau kencan kita dipenuhi ratap dan tangis” kataku sambil menarik tangannya. Dia hanya tertawa

***

Saat kami melewati Brandenburg Gate, Tiffany menyuruhku berhenti dan mengambil fotoku

“Ayo senyum lebar. Cheeseee”

Aku langsung berpose. Dia berkali-kali mengambil fotoku dengan berbagai pose

“Sini giliranmu”

“Tidak usah nanti orang tau kalau kita bersama”

“Ya sudah, aku aja yang post di instagram. Fotomu untuk konsumsi pribadi”

“What ?”

“Er.. sepertinya aku salah pilih kata. Pokoknya sudah foto saja !” aku memotretnya dalam berbagai pose. Tapi aku senang karena foto ini ekslusif hanya aku yang punya

“hei kamu mau shopping atau apa ?”

“aku bosan kalau shopping. Ayo kita ke Chrismas Market !”

“Malam saja itu. Bagaimana kalau lihat-lihat buku ?”

“Ayo” aku menggandeng lengannya

Dia mengajakku ke Motto, toko buku kecil yang sepi dan tenang. Kami berpisah dan melihat-lihat buku sendiri. Saat dia membaca aku diam-diam memotretnya, dia tersenyum dan sepertinya menyadari sedang aku candid

“Ayo lihat sini cutie” dia membalasnya dengan memotreku juga.

Tiffany selalu tahu yang aku inginkan. Toko buku ini khusus menjual buku art, photography dan fashion. Setelah membeli 3 buku, dia kembali menarikku ke tempat selanjutnya

“Kemana kita sekarang ?”

“Weidendammer Brücke”

“Ha ? Apalagi itu ?”

“Sudah lihat sajaaa”

***

Kita sampai di sungai Spree dan di jembatannya yang bernama Weidendammer Brücke , terdapat gembok-gembok para couple seperti di N Seoul Tower atau seperti di Pont des Arts Bridge di Paris

“Ini aku sudah siapkan gembok”

“Dari Seoul ?”

“Yep. Aku sudah berencana mau ke sini. Ayo tulis nama kita”

Aku menuliskan Jessica and Tiffany forever

“Sudah ?” aku mengangguk dan dia mengantungkannya di jembatan. Menguncinya dan memasukannya ke kantong coatnya

“Wow sunset !” kami melihat sunset bersama dari jembatan yang indah “terima kasih Tiff, the best date I’ve ever had”

Dia tidak menjawab apapun dan menciumku

“Woahh woaahh we’re in public !” dia memberi kode kalau di belakanganya terdapat pasangan gay yang juga saling berciuman. Aku tertawa dan kembali menciumnya

“Kenapa berterima kasih ? Datenya belum selesai”

“Aku sangat bahagia”

“Aku juga” dia kembali menciumku

***

Setelah makan schnitzel  di Engelbecken dan juga minum 2 gelas besar bir, kami berjalan menuju Christmas Market. Tentu saja kami harus minum bir asli dari Jerman.

Christmas market sangat ramai dan kami berdesakkan. Lagu Natal yang terus diputar menambah keriuhan pasar. Banyak pertunjukan seni, barang-barang unik dan makanan enak yang dijual

Pertama kami menaiki giant wheel bersama. Begitu sampai di puncak, Tiffany kembali menciumku. Setiap ada kesempatan, bibirnya langsung bergerak.  Ditambah dengan pemandangan indah, suasana ini benar-benar romantis. Setelah turun, kami melihat-lihat berbagai macam mainan dan hiasan natal. Kami membelinya beberapa buah untuk oleh-oleh di Korea.

“Ini lucu untuk Yul” kataku sambil menunjukkan syal merah

“Hmm bukannya untuk Hyo saja ?”

“okay, beli 2” dia tertawa dan menepuk kepalaku. Karena kami kebablasan, entah sudah berapa barang kami beli

Kami makan ginger bread dan minum hot chocolate yang ditambah alkohol. Aku tidak mau menimbang berat badanku sepulang nanti. Setelah kami puas, Tiffany mengajaku kembali ke hotel

***

Kami berjalan melewati Treptower Park. Salju yang turun membuat udara semakin dingin. Aku terus memeluk lengannya

“Tiff sebentar” langkahku terhenti

“Ha ?”

“Aku mau ngomong”

“Ya ?”

“Aku sangat senang hari ini. Terima kasih atas super date nya”

“Haha tadi kan sudah ngomong”

“Tu.. tunggu.. ini penting… aku… I love you Tiff”

Dia terdiam dan menatapku. Aku tidak peduli dan memeluknya dengan erat “I love you Tiff. You don’t have to say anything. I just wanna say I love you”

Dia membalas pelukanku dengan erat. Aku memberanikan diri menciumnya. Bibirnya sangat dingin dibandingkan yang tadi. Aku bisa mendengar lagu Deck The Halls dimainkan dari kejauhan

“I love you Tiffany, Merry Christmas”

“Merry Christmas Jessie”

Three Stupid Words : Chapter 6

“So what the hell are you doing here ?” kataku dengan perut sakit karena on period sementara Tiffany terus memegang pipinya yang bengkak pasca operasi gigi bungsunya

Kami tidak melakukan hal ‘itu’ justru kami duduk berdua di ranjang nonton netflix mengenakan piyama. Dibandingkan sexy couple, kami justru seperti pasangan yang sudah lama menikah dan kehilangan hasrat di diri mereka. Yah, atau mungkin kami seperti wanita yang mengadakan pajama party

“Kamu tahu kan kita tidak bisa melakukannya sekarang. There is a crime scene in my pants. Beside, rahangmu bengkak dan daritadi kamu mengeluh kesakitan”

“Hmmm..”

“Dan mungkin ini pertama kalinya kamu menginap tanpa meraba-raba badanku”

“hmmmm”

“Jadi kamu hanya mau ditemani malam ini ?”

“hmmm” dia mengangguk sambil tersenyum

“Ah aku lupa bilang, tanggal 23-25 Desember aku ke  Berlin. Iya yang di Jerman. In case kamu terlalu bodoh”

“Hm ?”

“Ada pemotretanjadi aku akan menghabiskan Natal di sana… Sendiri.. Krsystal ke LA dan kamu di sini dan aku sendiri di Berlin…”

“Hmmmmm”

***

23 Desember

“Perfect, thank you so much” kataku setelah memberikan tip kepada bell boy. Perjalanan sangat sempurna dengan pesawat first class dan sampai hotel Hyatt mewah dengan Suite Room

Ting tong

Ah itu pasti room service untuk welcome drink

“yes ?”

“Hai beautiful” kata seorang wanita dengan eye-smile lebar, tangannya memegang buket bunga. Tanganku otomatis menutup pintu kamar

Damn it Tiffany ! Apa ini mimpi ? Kenapa dia di sini ? Aku kembali membuat pintu hotel dan dia tetap di sana dengan senyum lebarnya

“Hai Jes—“ aku kembali menutup pintunya dan merenung sebentar untuk memastikan kalau ini bukan mimpi. Kenapa wanita gila itu menyusulku sampai ke Berlin. Aku kembali membuka pintu dan dia masih tersenyum

“Sudah donk, jangan buka tutup pintu” dia langsung masuk tanpa kuundang

“Ke… kenapa kamu ada di sini ? Aku bahkan sudah bilang ke resepsionis kalau aku mau privasi lebih. Oh God kamu bisa naik ke sini”

“Tidak usah berlebihan. Aku Tiffany Hwang DUH ! Tentu saja aku bisa masuk ke sini. Ini untukmu tadi aku beli tadi” aku menepis bunganya  “Awww come on Jessie. Don’t you miss me ?” dia menarik bahuku dan mencoba menciumku tapi aku berhasil lepas dengan mendorongnya

“Nope, aku tidak mengerti apa yang kamu lakukan di sini”

“Aku tidak tahan—“

“Aku selain photoshoot, di sini aku juga ingin menjauhkan diriku dari .. darimu”

“Kenapa ? Bukannya kamu—“

“Diam dulu. Aku perlu waktu sendiri dan break darimu Tiff, kita terlalu sering bersama”

“Tapi—“

“Kamu selalu mengikutiku kemanapun. Gosh Tiff, don’t you have another .. I don’t know, things to do ?”

“But Jessie, I can’t stand the idea of not meeting you”

“What ?”

“I can’t stand the idea of not meeting you. Aku ingin terus bersamamu. Aku tidak tahan kalau berpisah darimu”

Kami terdiam. Aku bengong dengan perkataan Tiffany. Itu adalah kalimat paling manis dan paling aku ingin dengar darinya. Tentu saja selain I love you

“Tapi.. kalau kamu tidak mau aku di sini, well, I’ll go and book a flight to Seoul”

“No, stay. You can stay” tanganku menarik coat hitamnya. Aku bisa merasakan pipiku memanas. Tiffany mengeluarkan smirk andalannya

“Hahaha aku tahu kamu akan menuruhku untuk tinggal, makanya aku membawa koperku” dia membuka pintu dan menarik kopernya masuk sambil tertawa penuh kemenangan

“Damn you, psycho !”

Dia melepaskan coatnya dan berjalan ke sekitar kamar

“Whoaaa what a view ! Malam Matal di sini pasti bagus banget” katanya sambil melihat ke jendela

“Tentu saja ! Ah, kenapa aku harus menghabiskan malam Natal denganmu”

“Nah, itu alasanku ke sini. Aku tidak akan membiarkanmu menghabiskan Natal sendiri” tangannya mengelus kepalaku dengan lembut

Ting Tong

“Wow room service” dia berlari seperti anak kecil ke pintu dan mengambil buket champagne di dalam Ice bucket dan 2 gelas “Ayo kita rayakan”

***

Aku merebahkan kepalaku di pangkuannya sambil menonton TV

“Bagaimana kamu bisa tahu aku di Hyatt ?”

“Aku melihat emailmu. Lalu kulihat email dari Hyatt tentang booking kamar dan aku juga tahu penerbanganmu” katanya dengan santai sambil menikmati minumannya

“WHAT ?” aku segera bangun dari pangkuannya

“What ? Apanya ? Kenapa?”

“KAMU MASIH TANYA KENAPA ? YOU’RE A CREEPY WOMAN ! GOD ! YOU’RE CRAZY. BAGAIMANA KAMU BISA TAHU EMAILKU”

“Please Jessie, tenang dulu kamu berlebihan. Aku membongkar komputermu dan mencari passwordmu. Aku beritahu, ya Jessie080489 itu terlalu umum. ”

“BERLEBIHAN APANYA ! STLAKER ! KAU MENJIJIKAN !”

“Stalker ? Hmm iya juga sih. Lalu aku book flight yang sama, tapi di business class. Kamu kan di first class jadi kita tidak bertemu. Tapi aku bingung juga kamu ga sadar. Penyamaranku berhasil”

Aku masih bengong dengan semua penjelasannya. Astaga aku berurusan dengan wanita berbahaya. Bukannya mendapat privasi lebih di sini, semua privasiku terengut oleh orang ini yang sialnya sangat aku cintai

“Se… selain password emailku, apalagi password yang kamu tahu”

“Gampang saja, handphonemu, netflix, HBO Go!, Spotify, laptopmu, hmm iTunes, iCloud, yah itu sama dengan password email sih. Lalu …”

“La… lalu ?”

“Oh Pin ATM mu, semua pin kartu kreditmu.. sepertinya sudah deh”

Aku melihatnya dengan tatapan horror, aku segera berjalan ke kamar dan merebahkan diri ke ranjang

“Ooh Jessie, are you mad ?”

“Shut up. I need a space from you, psycho”

“Jessie, artinya aku peduli padamu” dia memelukku dari belakang

“I need to go. I have a schedule” aku bangkit dan melepas pelukannya

“Hoo okay. Have fun !”

Sebelum aku melangkah keluar kamar, aku memelototinya.

“Sit !” kataku sambil menunjuk sofa. Dia seperti puppy langsung menurutiku “jangan lakukan apa pun apalagi membongkar barangku sampai aku kembali, mengerti ?”

Dia mengangguk dengan senyum menyebalkannya “Yes, madam”

***

Photoshoot berjalan lancar walaupun tadi sedikit berangin di sini. Melihat kota ini, aku jadi tidak sabar menikmatinya dengan Tiffany. Oh iya, orang itu sedang apa ya ? Pasti dia mengacak-acak koperku

“Nice ! It’s a wrap !”

Akhirnya selesai dan para staff membereskan barangnya. Aku segera mengganti bajuku bersiap untuk kembali ke hotel

“So Jessie, we have a Christmas dinner after this. Would you join, us ?”

“Hmmmm” makan malam dengan fotografer profesional, stylist keren, dan designer Vogue… tapi Tiff

“I.. would like to but I’m so tired. Maybe I’ll have dinner at the Hotel”

“Really ? Come on ! You’re already in Berlin. At least have enjoy the city with us “

“Mmm no.. I.. I really tired” aku berpura-pura lemas

***

Aku membuka kamar hotelku dengan terburu-buru. Kulihat Tiffany sedang minum entah susu atau kopi sambil menonton HBO

“Oh hai Princess. You look beautiful”

“Kamu masih di sini”

“Ha ? tentu saja. Kan aku menginap di sini”

Dengan nafas terengah-engah, aku melompat ke sofa dan menciumnya dengan liar

“Mmmhhh someone is eager”

“Shut up !” aku mendorongnya dan duduk di atas pahanya. Dia membantuku memelepas mantelku dan menurunkan ristleting dressku di belakang

“You’re beautiful” dia mengangkat dressku hingga menyisakan underwearku. Aku kembali menciumnya “mmm also You’re very sexy. I’ll take that sexy thing off later”

“Oh my God ! Please stop talking, won’t you ?”

“So.. sorry mmhh” she flipped me and now she’s on top of my body. She whispered “I’ll make you feel good. You’ll scream my name”

“Please stop talking and do whatever you want. You drive me crazy” I pull her into a kiss

***

We both naked and I’m lying on top of her in couch. I try to calm myself and catch my breath

“So… round 2 ?”

“What ? Are you kidding ?”

“Errr no, I’m thinking in kitchen. In counter”

“……..”

 ***

She rubbed my butt and also do me from behind. She slapped my butt really hard several times. Now I feel my butt is very hot

“Ah ah Tiff… Oh God”

“Yes… like it ?”

“LOVE IT !”

After finished, she wishpered sexily with her husky voice “I’m thinking maybe we can do third round in the floor”

“Hmm I don’t know”

***

“Oh crap ! It’s cold !” I hugged her and try to avoid the coldness of the floor

“But you love it, don’t you ? You screamed yes several times earlier and I thought you love to do it on the floor” she kissed my neck and shoulder

“I… I just realized that the floor is so cold. Can we..”

“Okay, move to the bed !”

***

“Aku mandi dulu”

“Ha ? Tidak mau lanjut di ranjang?” dia berbaring dengan sexy untuk menggodaku

“Aku kotor sekali Tiff. Terakhir kali aku mandi tadi sebelum pergi dan daritadi photoshoot dilakukan di outdoor. So yeah..” aku melangkah ke kamar mandi dan sengaja tidak menutup pintunya  
Sambil menyalakan shower, aku melihat matanya di kaca. Matanya juga menatap kaca di depannya yang menghadap ke kamar mandi. Tatapan itu seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Sesuai prediksiku, dia masuk ke kamar mandi dan bergabung denganku

***

Dia menciumku tanpa henti di ranjang seolah tidak ada hari esok. Sesekali dia mengigit bibirku atau menyerang leherku. Aku sudah memperingatkannya no hickey karena besok aku masih ada photoshoot

“Mmhh Tiff stop it”

“Why ? You love it”

“Sebentaaarr biarkan aku bernafas” aku mendorongnya dan dia tertawa “Wow that was..”

“fantastic ? I know”

Kami terdiam sebentar dan menatap langit-langit. Nafas kami masih belum teratur, hari ini kami intens sekali

‘Jadi Tiff.. kenapa kamu menyusulku ke sini ?” aku membalik badanku untuk melihat wajahnya

“Aku sudah bilang kan. Aku tidak tahan tidak bertemu denganmu. Aku juga tidak tega kamu menghabiskan Christmas sendirian”

“Sungguh ?”

“Yep. Makanya aku menyusulmu hingga ke sini”

“Wow, itu berarti kamu peduli denganku?”

“A lot. I really care about you a lot”

“So…”

“So ?”

“Do you love me ?”

“What ?”

“Kamu mencintaiku ?”

“Jessie.. I’m tired. Let’s not discuss about it, shall we ?” dia mematikan lampu

“NO ! Let’s discuss it!” aku bangun dan duduk di ranjang

“Tidak Jessie, aku lelah, tadi perjalanan yang melelahkan” dia kembali mematikan lampu tapi aku kembali menyalakannya

“Tidak ! Kamu melakukan perjalanan jauh dan bahkan membuntutiku dan membongkar semua passwordku. Bukankah itu tindakan lebih dari teman ? Kamu juga bilang peduli padaku. Kamu yakin tidak memiliki perasaan cinta ?”

“Jess..”

“Jawab Tiff”

“Aku mau tiduuurr”

“Tidak ! Kamu selalu melakukannya. Menghindar dari pembicaraan ini. Ini pembicaraan serius Tiff. Kita bukan anak kecil lagi”

“Oh my God. Apa yang kamu inginkan” dia menutup wajahnya dengan bantal

“Jawab aku dulu Tiff. Do you love me or not”

“Aku sudah menjawabnya ! I care about you ! Aku ingin bersamamu, lalu bangun dan tidur di sampingmu. God Jessie! Kenapa  kamu membuat ini terasa sulit ? Aku sudah datang sejauh ini, tidak bisakah kamu senang sedikit ?”

“Tentu saja aku senang ! Aku ingin memastikan perasaanmu. Kau datang jauh-jauh demiku, aku tidak percaya jika kamu tidak memiliki perasaan denganku”

“Jessie, tolonglah ini bukan waktu yang tepat. Aku lelah”

“Tiff aku tidak suka dengan kebiasaanmu yang selalu menghindari masalah”

“Aku tidak menghindar… aku hanya lelah”

Kami kembali terdiam “Okay, You’re right. Let’s not talk about it” akhirnya aku mengalah. Aku mematikan lampu dan tidur membelakangi dirinya, begitu juga dengannya. Tidak ada goodnight kiss atau sekedar ucapan selamat malam. Kita yang tadi bercinta dengan panas dalam sekejap saling bersikap dingin

___________________________________________

Maafkan diriku ! Minggu lalu aku lupa upload chapter ini. Terlalu halu minggu lalu nonton Beauty and The Beast sih. Kalian dah nonton ? Bagus banget ya. Apalagi pas adegan dansa. Emma Thompson jadi Mrs.Potts bikin terharu deh. Emma Watson cocok bener deh jadi Belle. Biarpun masih ada image Hermione tapi aku padamu deh !

Minggu ini ada Power Rangers juga. YEAH ! Btw aku ga nonton Kong. Kaya makin ga masuk akal. Itu King Kong gede bueneerr

Soal FF, menurut kalian, yang nyebelin di chapter ini Tiff apa Jess ? Ga enak bener ya udah capek, abis begituan eh malah berantem. Jadi, pilih

a. Tiff yang nyebelin suka menghindar

b. Jess nyebelin suka maksa-maksa padahal situasi tidak mendukung

Eh lupa, chapter ini banyak NC nya. Awas aja anak dibawah umur baca yang disensor yah. Nanti digrepe Tiff lho malam-malam.

Byeeee

Three Stupid Words : Chapter 5

“Jadi… haah kau tau darimana teknik seperti tadi ?” aku masih terengah-engah setelah apa yang Tiffany lakukan dengan tubuhku

“Well, aku mencarinya di google” katanya dengan bangga “nah aku pergi dulu ya. Malam ini aku tidak bisa menginap”

Aku mengembungkan pipiku. Kalau dipikir-pikir dia akhirnya menjadi sering menginap dan bahkan kadang meminjam bajuku, sabunku, shampooku dan bahkan ada sikat gigi miliknya di kamar mandiku

“bye princess” dia menciumku

“Bye”

Setelah dia keluar, aku baru sadar syal dan coatnya tertingaal. Aneh sekali. Pertama ini musim dingin dan dia bisa kedinginan di luar. Kedua, Tiffany bukan tipe pelupa. Atau dia sedang banyak pikiran ya ?

***

Esok paginya aku menjemputnya di lobi apartemennya. Kami janjian dengan Sooyoung makan siang bareng

“Heiiii” sapanya dengan senyuman hangat saat memasuki mobilku

“Haiii. Lama menunggu ?”

“Tidak. Sama sekali tidak” dia memandangiku sebentar “kamu terlihat cantik hari ini”

“Pfft gombal. Ngomong-ngomong itu di belakang aku bawakan coat dan syall punyamu yang tertinggal”

“Untuk apa ?”

“Iya itu milikmu, tertinggal”

“Aku sengaja meninggalkannya kok”

“Ha ? Kenapa ?”

“Karena… karena aku sering menginap” dia menggaruk kepalanya dan wajahnya memerah. Is she blushing ?

“Oh ya ?”

“Dan satu lagi.. aku mau menjadi bagian hidupmu. Aku mau beberapa barangku di tempatmu jadi aku seolah-olah terhubung denganmu.. ah aku ngomong apa sih”

Aku menahan senyumanku

“Intinya.. aku mau kita terikat dan aku mau masuk ke dalam area pribadimu.. eh kok.. mak..maksudnya. Intinya. Aarrgghh” dia mulai frustrasi mencari kalimat. Aku mengerti maksudnya tapi aku masih ingin mendengarnya ditambah dirinya yang gugup terlihat imut

“Aku mau  terlibat lebih jauh denganmu. Aku mau menjadi bagian dari dirimu. Kamu mengerti maksudku, kan ?”

“Hahaha iyaaa. Aku mengerti. Terima kasih Tiff. Nanti aku sediakan 1 bagian kosong di lemariku untukmu”

***

“Hey guys sini ! Duduk di sini !” sambut Sooyoung

“hei” kami langsung duduk

“Jadi, ada promo jika kita bisa menyelesaikan 1 bowl ice cream which is 10 scoop, kita bisa mendapat kupon untuk 10x makan dessert”

“Oh wow, kita baru datang dan kamu sudah mengoceh. Please Syoo kita sudah kaya  dan kamu masih mau kupon 10x makan dessert ?” kata Tiffany

“Yup. Bad idea ?”

“Sounds nice ! Let’s go !”

Mereka memesan semangkok besar ice cream dan yep benar-benar sangat besar ditambah dengan kacang, M&M, saos coklat dan strawberry plus 5 pocky yang ditancapkan. Ewh melihatnya saja aku sudah langsung terkena diabetes

Aku hanya makan 1 scoop rasa coklat dan sisanya dimakan oleh Tiffany dan Sooyoung. Setelah menghabiskannya mereka sangat bangga dengan kupon yang diberikan. Mereka terlihat sangat konyol

***

Esok harinya, aku berlari kecil ke apartemen Tiffany dan memencet belnya berkali-kali. Kegiatan shoppingku hari ini terhenti karena dia

“Oh God. Kamu kenapa ?” tanyaku sambil masuk ketika dia membuka pintunya

“Aku sakit, sedang apa kamu di sini. Pulanglah” dia terlihat lemas dan wajahnya merah

“I knew it ! Karena es krim itu kan !”

“Tidaak aku hanya uhuk uhuk kecepean uhuk” batuknya sangat kencang dan terdengar seperti batuk kering. Dia mengambil tissue dan membuang ingusnya

“Ayo tidur. Kamu perlu istirahat”

“Sudah pulanglah” aku tetap bersikeras menarik lengannya dan mendorongnya ke ranjang “Jessie, sakitku akan sembuh sendiri. Aku hanya perlu tidur, minum obat flu ku dan sirop obat batukku”

“Sudah tidur I’m in charge right now” aku ke dapur dan membuatkan….. membuatkan apa ? aku membuka kulkasnya dan hanya ada coklat, wine, soda, cake. Tidak ada bahan makanan. Cara terakhir tentu saja menelpon delivery

***

“Ayo aaaaa” aku menyuapinya sesendok bubur

“Kalau cuma delivery aku juga bisa sendiri”

“Sudah diam. Udah sakit bukannya diam malah ngomel” aku memastikan kembali panas tubuhnya sudah turun

“habis makan minum obat flu lalu minum obat siropnya”

“Iya tante. Cerewet” uukh aku ingin menjitak kepalannya, untung saja dia lagi sakit

“Ngomong-ngomong. Aku sudah lama sekali tidak ke sini. Mungkin sekitar 2 tahun. Itu karpetmu dulu pink sekarang menjadi putih lalu kamu beli rak buku dan kursi malas dan sepertinya dapurmu juga sedikit berbeda, lalu tentu saja Tvmu diganti. Aku kira kamu mau renov semua apartemenmu menjadi pink”

“Memangnya aku psikopat apa ? Tentu saja aku juga perlu warna natural”

“Hmm let me think kenapa aku hampir tidak pernah ke sini”

“Tentu saja karena peratur…ups”

Mataku melotot dan memukulinya berkali-kali

“aargghh arghh stop it ! sakit ! Hei !”

“Dasar bodoh ! Kamu masih punya peraturan konyol seperti itu sampai aku tidak boleh ke sini ! rasakan !”

“TENANG DULU !” dia memegang kedua lenganku “Itu dulu ! Peraturan itu bukan untukmu tapi ke semua wanita yang kubawa kemari. Sekarang tentu saja pengecualian ! Kamu.. kamu boleh ke sini kapanpun kamu mau”

“Kamu menyebalkan”

“Dengar dulu ! Kenapa aku selalu ke tempatmu atau selalu pulang ke rumah wanita yang jadi sasaranku, itu karena akan sangat susah mengusir mereka setelah aku puas”

“You’re an asshole. You’re fucking asshole”

“Tapi.. dengar dulu.. Itu dulu ! Sekarang kamu boleh ke sini kapanpun dan boleh menginap semaumu. Buka lemari bajuku”

“Kenapa ?”

“Sudah buka saja”

Aku berjalan ke walk in closetnya dan melihat ada slot kosong di paling pinggir

“Sudah lihat ? Itu untuk bajumu. Aku meninggalkan bajuku di apartemenmu dan aku juga mau kamu meninggalkan bajumu di apartemenku. Aku mau kamu menjadi bagian diriku”

Aku speechless dan hanya berdiri mematung memandanginya

“Aku serius Jessie. Mungkin langkah pertama tinggalkan sikat gigimu di sini jadi kamu bisa menginap. Aku mau hubungan kita lebih dalam”

Aku tersenyum lebar dan mengambil kantong plastik yang kubawa daritadi. Aku mengeluarkan sikat gigi baru dan menaruhnya di kamar mandi. Kemudian aku menaruh semua baju yang kubelanjakan di lemarinya

“Aku juga mau meninggalkan barangku di sini”

Dia tersenyum lebar dan menunjukkan eye-smilenya. Aku memeluknya dan hendak menciumnya namun dia menghindar

“jangan nanti kamu tertular” aku mencium kedua pipinya dan dahinya

“Okay, sepertinya kamu akan baik-baik saja. Aku pulang ya”

“Tunggu Jessie” dia menarik bajuku hingga aku sedikit mundur “jangan pergi” matanya menunjukkan puppy-eye yang menggemaskan

“Kamu perlu istirahat”

“Ta… tapi. Sejak aku sering menginap dan terbangun di sampingmu, aku merasa nyaman. Aku seperti merasa hangat. Jadi please menginaplah. Aku sakiiittt” dia mulai berakting sok lemas

“Don’t play victim”

“Pleaseeee”

“Okaaayy okaaayyy. Astaga sakit mengubahmu menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Dulu kamu tidak mau membawa seseorang ke rumahmu karena takut mereka menginap. Sekarang malah kamu memaksaku menginap”

“Kamu merubahku”

“Whatever, aku mau mandi” dari senyuman manis berubah menjadi smirk sexy andalannya

“You can go out naked and hug me all night long. You’re more beautiful when you’re naked”

“PERVERT !”

*******************

Hai semua apa kabar ?? Maaf ya sedikit lama updatenya LOL

Btw dah pada nonton Logan ? Duh sedih ya Hugh Jackman terakhir jadi Wolverine. Oom tampan multi talented yang udah nemenin kita selama 17 tahun di film X-Men

Cuma ya klo Hugh Jackman karir dia mah cemerlang lah. Wong anak broadway tus film dia selain X-Men juga bagus-bagus. Kyaaaa Oom kyaaaaaa.

Tapi kayaknya emang sekarang aktor/aktris superhero punya karir bagus deh di luar film superhero mereka. Dan emang rata-rata yang dipilih tuh udah terkenal sebelumnya kaya Ben Affleck (Batman) atau Benedict Cumberbatch (Dr. Strange). Mungkin buat hindari stereotypical kali ya. Kalo dulu biasanya aktris/aktor pasca-superhero karirnya rata-rata mandek.

Btw aku list deh superhero paling cakep menurutku

  1. Superman (Henry Cavil duuuhh bikin ngiler)
  2. Captain America (Chris Evans si tampaannn)
  3. Deadpool (Oom Ryan Reynolds yang humoris)
  4. Wolverine (Baca paragraph atas. Oom Hugh Jackman si Mr. Nice Guy)
  5. Thor (Beautiful Chris Hemsworth)

Kalau kalian siapa ? Komen ya hehe

Three Stupid Words : Chapter 4

“Jadi Syoo. Menurutku memang lebih baik aku membuka cabang di NYC lalu dari sana..”

“Terlalu beresiko astaga. NYC itu sangat rawan dan kenapa dengan cara jalanmu ?”katanya dengan menunjuk sepatu Gucci ku terbaru setinggi 9 cm

“Ini sepatu baru ! Masih sakit !”

“Jangan dipakai jalan jauh kalau begitu. Kamu tahu kita sedang shopping di Gangnam Street. Banyak jalan”

“Tapi aku ingiiinn”

Kami berjalan dan terus berdebat seperti biasa, aku tidak memperhatikan sekitarku dan… terjadi insiden

“GYAAAAAA”

“SICA !”

***

Tiffany POV

Trrrrttt trrrttt

“Hai Syoo aku sedang sibuk”

“SIBUK APA ?”

“Aku sibuk membaca Cosmopolitan”

“CEPAT KE RUMAH SAKIT !”

“Ha ? Kamu sakit ?”

“Bukan, Sica yang sakit”

“SAKIT APA DIA ?!!!”

“Tadi pagi terjadi sedikit insiden”

“APA ? ACCIDENT ? DIMANA ? DIA MASIH HIDUP ?”

“Masih Tiff. INSIDEN bukan ACCIDENT”

“Oh God. Dia ditabrak mobil ? Accident di jalan … tol ? Dia sekarat ?”

“Hoi Tiff !!!”

“AKU SEGERA KE SANA !”

***

Oh God oh God oh God oh God

Sepanjang jalan aku terus panik. Aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi apa-apa dengannya. Bagaimana kalau dia koma lalu amnesia lalu seperti di Kdrama lainnya. BAGAIMANA

Akhirnya aku sampai dan langsung mencari UGD. Seluruh ranjang tertutup tirai, dimana dia ? DIMANA ?

“Suster… hemm dimana..”

“Dimana ?”

“Dimana.. teman saya …?”

“Mana aku tahu ! Memangnya ini Drama Korea apa ?”

“Mak.. maksudku Jes.. Jung SooYeon”

“Hooo… di tirai itu” katanya sambil menunjuk tirai di tengah dekat tembok

“Terima kasih banyak !” aku segera berlari ke tempat itu dan setelah kubuka, ku lihat seorang yang pasti wanita dengan rambut cokelat tua dan wajahnya lebam dimana-mana. Dia tidak sadarkan diri dan tangan kakinya dipasang gips

“Oh my God” lututku lemas, aku hampir terjatuh. Aku berusaha mengatur nafasku yang tercekat

“Jessie… no… oh my God… no…”

Sreeekk

“Tiffany ..?” Jessica Jung yang asli menatapku dengan keheranan. Kulihat hanya kaki kirinya yang diperban.

“Lho ?”

“Kamu ngapain, bodoh ?”

“Aa… aku..” aku langsung pindah ke tempat dia dan menutup gordennya

“Mana Sooyoung ? Kenapa dia meninggalkanmu sendiri ?”

“Tadi dia ada syutting jadi aku langsung menelponmu untuk menjemput. Soalnya kalau naik taxi atau uber repot”

“Kalian mengagetkanku saja. Aku kira kamu kenapa. Jadi kakimu terkilir ?”

“Iya tadi aku pakai high heels baru lalu yah gitu deh”

“Makanya jangan sering-sering pakai high heels. Apalagi kalau masih baru. Aku dengar accident dari Sooyoung, bukan insiden”

“Tadi dia bilang INSIDEN bukan ACCIDENT. Pfft kamu salah dengar ya ? hahaha”

“Sudah diam, ayo pulang”

***

Jessica POV

“Yak sampai” Tiffany merebahkanku di tempat tidur. Dia memapahku dari mobil hingga naik ke apartement

“Thanks Tiff, you can go”

“What the… kamu tidak mau aku tinggal ?”

“Ma.. mau” kataku dengan wajah merah. Mengetahui aku yang salah tingkah dia mendekatkan wajahnya

“Mau mandi sekarang ?” katanya dengan senyum liciknya yang sexy

“Mandi ?”

“Iya, kata dokter perbanmu tidak boleh kena air. Aku akan membantumu dan…” dia berbisik hal-hal kotor, mesum dan aku menyukainya

“Okay, let’s go” aku segera menarik kerah kaosnya dan dia membantuku berjalan ke kamar mandi

***

Jam telah menunjukkan pukul 8 dan Tiffany berinisiatif menelpon delivery. Setelah mandi Tiffany menservisku habis-habisan mulai dari membawanku air, snack, menyelimutiku. Sejujurnya, walaupun dia tidak melakukan apa pun, aku senang dia ada di sini.

“hei kamu mau makan apa ?”

“Pizza”

“Errr better not.. bagaimana kalau bubur ? Kamu kan sakit”

“Yang sakit kakiku bukan tengorokanku. I want pizza N.O.W”

“Okay princess… gosh !” aku merasa menang telah mengalahkannya. Hari ini aku menjadi princess 100% dan dia menjadi pelayanku

***

“Tiff…”

“Hmm ?” katanya sambil memasukkan pizza ke dalam mulutnya

“Terimma kashhiihh”

“Hahaha kunyah dulu”

“Ehm terima kasih maksudku”

“Tidak apa-apa. Aku senang berada di sini” tangannya membelai kepalaku dengan lembut

“Kamu memperhatikanku padahal kamu pasti sibuk”

“Tidak juga, aku sedang lowong dan lagipula… Lagipula aku waktu mendengar terjadi sesuatu padamu, aku tidak berpikir jernih sampai-sampai tidak bisa membedakan insiden dan accident. Tiba-tiba kepalaku isinya hanya kamu”

Kami terdiam beberapa saat

“Dan.. itu berarti kamu menyayangiku ? Kamu sayang padaku Tiff ?”

“Aku peduli padamu, Jessie”

“Apakah kamu mencintaiku ?”

“Jessie please..”

“Tiff jawab mmmphh” dia memasukan seluruh potongan pizza ke mulutku

“Kamu bawel hahaha”

***

Jam 12 malam setelah marathon episode Game of Throne dia merebahkanku di ranjang

“Okay, nite. Aku pergi dulu ya” tanganku otomatis meraih bajunya

“Jangan pergi”

“Kenapa ? ini sudah malam, kamu perlu istirahat juga”

“Sini, bermalam di sini. Bagaimana kalau mendadak aku terjatuh, atau tersandung atau terserang penyakit jantung. Aku bisa mati sendirian di sini. Aku tidak mau mayatku membusuk. Aku mau dikubur dalam keadaan cantik”

“Kamu berlebihan”

“Tidak. Ayo Tiff, sudah larut juga, nanti kamu kenapa-kenapa. Pleaseeeeee”

Dia tersenyum membelai kepalaku

“Okay, aku mau mandi dulu dan aku pinjam piyamamu ya”

***

Kami berdua terjaga dan hanya menatap langit-langit. Kami tidak mengucapkan sepatah kata pun

“This is bad” katanya

“Why ?”

“Kita tidur bersama seranjang tanpa melakukan apapun. Ini salah”

“Iya kenapa”

“Karena kita akan terlihat seperti pasangan biasa. Seperti sepasang kekasih atau bahkan pasangan yang menikah. Lebih parah. Pasangan menikah 20 tahun dan tidak melakukan seks lagi. Ewwwhh ”

“Aku tidak ngerti. Tidurlah Tiff, anggap saja kita sleepover sebagai teman” aku membalik tubuhku ke kanan, membelakanginya.

“Tapi… tapi aku tidak mau cuma menjadi temanmu” dengan kalimat itu dia sukses membuat jantungku berdegup kencang.

“Aku mau lebih dari teman” bisiknya dan membalik tubuhku. Bibirnya menciumku dengan lembut

“jadi.. kau mau lebih dari teman tapi bukan kekasih ?”

Sshhh” dia menciumi leherku

“Answer me Tiff. So you wanna be my gir..” tanpa menyelesaikan kalimatku, dia kembali mencium bibirku dan memasukkan lidahnya. Aku segera lupa dia belum menjawab pertanyaanku

Dia membuka bajuku dan menciumi tubuhku dari leher hingga pinggang

“Yang ini aku harus hati-hati” katanya sambil tersenyum. Tiffany membuka celanaku dengan hati-hati dan kembali menciumku

***

Pagi telah tiba dan aku yakin dia tidak akan ada di sampingku. Aku sudah siap menghadapinya

“Morning” suara husky itu terdengar dari belakang “Aku memelukmu semalaman dan ini terasa nyaman” tangannya masih memelukku dari belakangan dan semakin erat

“You’re staying”

“Yes, I am. Dan aku akan terus di sini sampai kamu puas”

“Aku senang, kamu di sini. Kamu melanggar peraturan terbesarmu. Menginap”

“Yes, dan aku tidak peduli sama sekali. Aku cuma mau di ranjang denganmu”

Aku tersenyum lebar dan kembali memejamkan mata. Aku kembali menang

***

Aku membuatkan pancake siap saji dan kopi untuk sarapan. Seperti kata Tiffany tadi pagi, kami seperti pasangan pada umumnya

“Yak, aku ada janji dengan bos untuk aransemen lagu. Bye” dia menciumku sebelum pergi dan menutup pintu

Tidak lama dia kembali sambil tertawa

“Aku sudah gila. Aku melanggar 3 peraturanku. Jangan menginap, jangan sarapan bersama dan no kiss bye. What the hell. Ada apa denganku ?” setelah mengatakan itu, dia kembali pergi

**********************************

Halo halo semua. Ini post pasca pilkada. Kenapa sih tiap aku post selalu aja ada kejadian politik. LOL

Daripada bicara hasilnya, apakah kalian make tinta di jari buat promo diskonan ? LOL

Sudahlah, tadi semua makanan kerasa penuh. Semacam semua manusia tumpeh di mall terus incer promo. Dari makanan mahal sampe murah

Starbucks ga usah ditanya deh antrenya. Udah kaya mau nonton konser. Haagen Dasz trus Cold Stone udah penuh orang. J.Co juga sama Hop Hop, Dairy Queen sana Shilin. Mantap bener deh. Ya kalo dipikir kapan juga sih promo diskon ampe kaya gitu.

Ujung-ujungnya aku ga make promonya saking padatnya. Sisi positifnya, jalanan kosong melompong sih.

Lumayan libur tambahan LOL

Three Stupid Words : Chapter 3

“Hai morning” sapa Tiffany di depan pintu apartemenku

“Hai, ayo masuk dulu. Aku bersiap-siap dulu”

Dia merebahkan dirinya di sofa dan membaca cosmopolitan milikku

“Jadi, hari ini kita akan berkencan huh?” aku melangkah ke kamar untuk berdandan. Kubiarkan pintunya terbuka

“Kencan? No way. Tujuan hari ini kan ingin mencarikan Yul kado. Jadi ini bukan kencan Jessie. Lagipula aku masih belum ada ide mau beli apa” katanya sambil masuk ke kamarku

“Pikirkanlah Hwang. Dan katanya kamu mau nonton Fantastic Beast ?”

“Yessss. Itu tujuan utama hari ini. Untung kamu mau menemaniku nonton” aku tersenyum dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajuku.

“Tiff bantu aku dengan resleting belakang” Tiffany melihat punggung atasku seperti hewan buas. Dia tidak tahan dan menciumnya dengan lembut

“Tiff.. No… kita mau pergi”

“Sebentar saja?” bisiknya dengan suaranya yang seksi

“Nope. Pasang resletingnya N.O.W”

“Okay.. okay woah Princess”

***

Aku berjalan-jalan di Coex Mall dan tidak menemukan sesuatu yang bagus untuk Yuri. Semua baju, sepatu ataupun kacamata terasa kurang. Suasana Natal sudah mulai menghiasi mall. Sebenarnya daripada mencari kado, aku lebih penasaran apakah ini kencan, atau hanya 2 orang teman berjalan-jalan. Aku meyakinkan diriku kalau ini kencan

“Hei Jessie,  sudah waktunya untuk nonton. Nanti kita cari lagi”

“Okay. Sepertinya ada yang sudah tidak sabar dengan Fantastic Beast” kataku sambil merangkul lengannya

“Iya, aku. Aku selalu excited dengan Harry Potter. Dan kamu tidak excited dengan apa pun” dia mengacak-acak rambutku

“Enak saja ! Kamu suka over. Dasar nerd !”

“Bawel sekali Jung” dia merangkulku dengan erat. Ini kencankan ?

Di bioskop tangannya menggengam tanganku dengan erat. Beberapa kali dia melepasnya untuk minum atau merenggangkannya, tapi dia selalu kembali meraihnya. Ini membuatku gila. Kenapa dia menolak mengakui kalau ini kencan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau belikan Yul mesin Espresso?”

“Ide bagus. Kamu jenius”

“Terima kasih atas pujiannya yang jarang diberikan sekalipun aku hebat di ranjang”

“Sssssstttt kecilkan suaramu bodoh !”

Tiffany Hwang, walaupun dia sering kuejek atau kupukul, dia akan selalu tertawa dan tersenyum. Kemudian memelukku, menciumku dan berlanjut ke ranjang. Mungkin karena sifatnya yang seperti itu, aku jadi jatuh cinta luar biasa.

“Tiff, akuilah ini kencan,kan ?” aku masih bertahan dengan pendirianku

“Ini bukan kencan. Aku tidak mau melanggar peraturanku. Kita hanya sepasang sahabat yang mencari kado untuk sahabat lainnya” katanya sambil berjalan di depanku.

Langkahnya terhenti dan dia berbalik ke arahku. Melihat diriku yang murung, dia tersenyum manis

“Tapi, walaupun ini bukan kencan, aku bisa menggandeng tanganmu”

“Whatever”

“Jung, jangan ngambek donk” kami berjalan bergandengan dan aku sedikit kesal dengannya

Setelah barang dibeli dan dibungkus, kami segera pergi ke restaurant sushi tempat Yuri merayakan ulang tahunnya. Di mobil aku hanya dia dan masih memendam rasa kesalku. Apakah aku egois ?

“Kamu masih kesal denganku?”

“…”

“Kita mau bertemu the girls. Yuri berulang tahun. Hei Jessica Jung”

“…….”

Tiffany menghela nafasnya “Baiklah, aku mengakui kalau tadi kencan dan aku mematahkan peraturanku jangan berkencan”

“Aku tidak suka kalau kamu mengakuinya dengan terpaksa”

“Tidak.. ini benar. Ini kencan. Kita jalan bareng, makan siang, nonton, jalan bergandengan, berangkulan. Kita tertawa dan bercanda. Aku mengakuinya. Aku .. hanya benci mengakui kalau aku kembali melanggar peraturan”

“Sungguh ?”

“Apalagi aku sudah melanggar peraturan no cuddle more than 5 minutes. Jadi yah, ini kencan”

Aku tersenyum sedikit “Taruhan kita masih berlaku kan ?”

“Please aku benci taruhan itu. Aku benci memikirkan kalau kamu akan pergi”

“Berusahalah Hwang” aku menepuk bahunya

Akhirnya kita sampai dan bertemu Yuri and the girls. Mereka heboh menyambut aku terutama karena datang dengan Tiffany

“Happy birthday Yul” aku mencium pipinya

“Wow kamu datang. Terima kasih dan apa ini ? Besar sekali kadoku”

“Ah hanya mesin kopi biasa”

“Biasa ? ini Luar biasa ! Ayo duduk pesan minum !”

Aku berbincang banyak hal dengan mereka. Sudah lama kami tidak seperti ini. Tawa kami memenuhi restaurant dan tidak bertahan lama setelah… Han Yeseul datang. Wait what ?

“Yul, kenapa kamu mengundan dia ? Ke-na-pa” bisikku

“Dia temanku. Wajar donk seorang teman mengundang temannya. Dia tidak datang sendiri. Itu dia datang dengan Narsha, Hara. Itu Hara lalu Jihyo”

“Maksudku, kamu masih berhubungan dengan Han Yeseul ? Tau ga gosip kamu..”

“Sica teman… teman” Yuri hanya tertawa melihatku

“Hai Sica” Hara menyapa memelukku

“Hai kamu datang dengan Yeseul itu ?”

“Yep, lokasi shooting kami dengan jadi yah sekalian saja. Kamu terlihat tidak senang malam ini”

“Senang kok. Tentu saja senang bertemu denganmu” aku merangkulnya dan duduk di sebelahku. Tunggu Yeseul itu kenapa duduk di sebelah Tiffany yang juga tepat di depanku

“Hai Sica”

“Hai unnie, senang sekali melihatmu”

“Iya, kamu terlihat sehat. Bisnismu dimana-mana”

“Terima kasih unnie. Semoga ke depannya kita berkembang”

“Oh hai, unnie” sapa Tiffany yang baru kembali dari toilet. Dia cukup kaget dengan Yeseul duduk disebelahnya

“hai Tiffany, keberatan aku duduk di sini ?” damn that sexy voice

“Tentu tidak. Untuk gadis secantikmu. Aku tidak keberatan kamu duduk dimanapun” damn that son of a bitch. Tiffany asshole !

Inilah aku sepanjang malam yang seharusnya menikmati kebersamaan dengan para member dan teman-teman lainnya, malah melihat orang yang kucintai saling menggoda dengan unnie yang sexy, cantik, pintar. Kenapa aku justru memujinya ?! Kenapa ?!

Sesekali aku tertawa dengan jokes Hyoyeon, atau kekonyolan Yuri di hari ulang tahunnya. Tapi mataku tidak bisa berhenti melihat Tiffany dengan tantenya yang mana bekasnya Yul. Gross.

Sepanjang malam mereka berdua saling berbisik dan tertawa. Tangan Yeseul memegang lengan Tiffany. Mata mereka saling memandang dengan intens. Tiffany melihat unnie barunya seperti singa melihat daging segar. Aku baru sadar jarak muka mereka hanya 3-4cm. IYA SEDEKAT ITU

“Tiff, bagaimana kalau kita pindah ke bar. Aku ingin bicara lebih banyak denganmu. Ada rahasia yang mau kuceritakan” katanya sambil melihatku. Tunggu, dia melihat ke arahku ?

“Well, okay”

Mereka duduk di bar dan punggung Tiffany membelakangiku. Aku tidak tahan.

“Hara aku pulang dulu ya”

“Lho kenapa? Ini baru jam 11. Tunggu dulu lah”

“Tidak, aku lelah Hara. Aku sudah pesan uber”

“Mau kuantar ?”

“Tidak usah”

Aku berdiri dari kursiku “Bye Girls”

“Yah Sica, kenapa cepat sekali ?”

“Aku lelah, bye semuanya. Kapan-kapan kita nongkrong lagi ya” aku keluar dari restaurant untuk menunggu uber

“Sica tunggu !” Yuri menyusulku keluar

“Yul hei, di luar dingin. Masuklah”

“Kuantar ya !”

“Jangan, ini ulang tahunmu. Nikmatilah. Masuk sana ke dalam. Aku juga sudah pesan”

“Tidak, aku antar”

“Aku sudah pesan uber Yul. Masuklah. Serius”

“Ini… tentang Tiffany kan ? iya kan ?”

“Bukan Yul. Aku lelah, aku perlu istirahat”

“Tidak, ini pasti tentang dia. Sica, aku minta maaf telah mengacaukan hari ini. Seharusnya aku tidak mengundang wanita itu”

“It’s okay Yul. Aku baik-baik saja. Ah jemputanku sudah datang. Bye Yul,  happy birthday” aku memeluknya dan mencium pipinya sebelum pergi

***

Tiffany POV

“Lho mana Jessie ?” tanyaku. Mendadak mata semua member menatapku tajam seperti aku baru melakukan sesuatu yang luar biasa salah

“Pulang” jawab Yul dengan datar

“Ha? Pulang ? Dia naik apa ? Tadi dia datang denganku”

“Uber”

Suasana sepertinya sedikit tidak enak. Yeseul unnie telah kembali dari toilet dan memeluk lenganku

“Mau ke tempatku, Hwang ?”

“Absolutely”

Bagus juga Jessie pulang, aku bisa pulang dengan unnie yang hot ini. Iya.. bagus juga…

***

Kami sampai di rumah Yeseul. Aku sudah tidak tahan sejak melihatnya. Dia begitu.. menggoda dan dewasa. Sepanjang jalan dia terus meraba pahaku selagi aku menyetir. Damn !

Tapi.. kenapa mendadak aku memikirkan Jessie. Jahat sekali aku meninggalkan dia malam ini sendirian, pulang sendiri. Seharusnya aku yang mengantar dia pulang

“Ayo Tiffany, turun”

“Eh iya, unnie. Turun duluan saja. Aku .. aku mau ..” ayo beri alasan ! “Ah aku mau menelpon kakakku dulu. Dia tadi menanyakan kabarku. Dia gampang cemas. Lagipula… sebaiknya unnie turun saja dulu. Bersiap-siap untukku” kataku dengan menggoda

“Ooh oke.. aku tunggu ya”

Okay, calm down Tiffany. Kamu akan turun dan menghadapi Han Yeseul, walaupun dia mantan Yuri, tapi dia sangat HOT. Kamu tinggal turun dan bersenang-senang, jangan sampai perasaan bersalahmu membuatmu moodmu turun.

Aku menarik dan menghembuskan nafasku. Kenapa wajah Jessica mendadak muncul ! Kenapa tubuhku tidak mau turun dari mobil. Kenapa aku malah mau menemuinya dan minta maaf ? Kenapa kakiku menginjak gas dan pergi ?

Ups

***

Jessica POV

Jam 11 dan aku menikmati me time dengan menonton Notting Hill sambil minum wine. Ooh aku ingin seberuntung Julia Roberts mendapatkan Hugh Grant. Kapan aku bisa mendapatkan soulmate

Malam ini berat sekali. Bukannya aku mendapatkan Tiffany, malah dia pergi dengan orang lain. Terserahlah. Aku malas mengingatnya

Tok tok tok

“Siapa sih jam segini” setelah kubuka, ternyata adalah Tiffany. Dia tidak bersama wanita itu ?

“Tiff ?”

Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menciumku dengan dalam. Dia memelukku dan mendorongku menuju kamar dan menjatuhkanku di ranjang

“Apa yang kau lakukan di sini ? Kenapa kamu tidak pulang dengan Yeseul ?”

“Aku tidak bisa.. aku tidak bisa melakukannya” dia membuka mantelnya kemudian sweaternya

“Kenapa ?”

“Entah.. aku tidak tahu. Waktu itu aku memikirkanmu. Aku minta maaf telah meninggalkanmu. Aku seharusnya mengantarmu pulang”

“Aku tidak mengerti”

“Maafkan aku Jessie, maafkan aku. Aku hanya… aku tidak bisa melakukannya jika bukan kamu. Aku tidak mau melakukannya, jika bukan denganmu”

“Apa ?”

“Aku cuma mau melakukannya denganmu. Aku tidak bisa kalau bukan kamu” dia menciumi leherku dan membuka hoodieku dan kausku. Tangannya turun dan membuka celana pendekku.

Aku membuka baju dan celananya. Malam ini Tiffany bergerak cepat seperti terburu-buru. Dia berkali-kali menciumku dengan sedikit kasar dan dengan gigitan kecil.

Nafas kami berderu. Aku mencakar punggungnya beberapa kali.

“I Love you Tiffany” bisikku. Dia berhenti dan menatapku dengan ragu

“Jessie.. aku…”

“Ssssttt… tidak apa. Kamu tidak harus merespon. Aku hanya mau menyatakannya. Malam ini aku tidak akan menyembunyikannya lagi”

Dia tersenyum kecil dan menggigit bahuku “I love you Tiffany. Love you so much” kataku sepanjang malam. Entah it feels so right setiap aku mengucapkannya

***

Grrrkk grrrk

Aku terbangun dengan suara berisik

“Nggghh jam berapa ini” samar-sama aku melihat Tiffany sudah berpakaian lengkap dan memakai jam tangannya

“oh maaf membangunkanmu”

“jam berapa sekarang”

“Jam 7 pagi”

“Oh my God, masih pagi sekali” aku mendengar Tiffany tertawa

“Aku pergi dulu ya. Lanjutkan tidurmu” dia terdiam dan mencium bibirku “goodbye’

Dia keluar dari kamarku dan tidak lama dari apartemenku. Aku masih sangat teler untuk mengingat yang terjadi. Tunggu. Tadi Tiffany menciumku sebelum pergi, berarti dia melanggar peraturan no kiss bye .Kemarin Tiffany datang jam 12 malam lalu pergi jam 7 pagi. Berarti… dia menginap,kan ?

Dia melanggar peraturan terbesarnya yaitu menginap denganku

**********************************************

Hayo hayoooo aku sensor ya. Yang masih kecil jangan di baca.

Bete ga sih sama Tiffany di sini ? Rada nyebelin ya ? haha. Maen ninggalin Sica sama sexy unnie. Hayoo siapa yang sebel jugaaa angkat tangaann

Anyway. Resident Evil biasa aja ya. Lee Junki nya muncul cuma sedikiiitttt. Tapi ya ga papa lah. Udah film terakhir.

Alice tuh salah satu jagoan cewe paling keren sebelum Katniss di Hunger Game atau Rey di Star Wars. Doi lawan zombie dari tahun 2002 – 2017 plus dikejar Umbrella Corporation pula. No drama no boys juga.

Mantap. Film February yang bakalan rilis ada Beauty and The Beast (kyaaa Emma Watson) trus Lego Batman dan 50 shades of darker *terdengar suara cambuk*

Sampai chapter berikutnya !